“PERINGATAN: Merokok Membunuhmu.. dan Orang Disekitarmu”

Membahas tentang rokok dan industrinya memang tidak akan ada habisnya. Pro dan kontra dari setiap aspek industri ini memang sangat menarik untuk dibahas. Tentu aspek yang paling sering dibicarakan adalah dari sudut pandang kesehatan. Sudah banyak riset yang menunjukan bahwa merokok sebagai salah satu faktor resiko berbagai macam penyakit. Bahkan menurut WHO, 6 dari 8 penyebab kematian utama di dunia disebabkan akibat konsumsi tembakau diantaranya Penyakit Jantung Iskemik, Penyakit Kardiovaskular, Infeksi Saluran Pernafasan Bawah, Penyakit Paru Kronik Obstruktif, Tuberkulosis, serta Kanker Paru. Sebagian masyarakat tentunya beranggapan bahwa merokok merupakan kebiasaan yang buruk. Sebuah kebiasaan yang tidak ada manfaatnya, bahkan cenderung merugikan. Tapi disisi lain, tidak sedikit masyarakat yang sepertinya tutup mata dengan berbagai dampak buruk akibat perilaku merokok khususnya terhadap kesehatan. Mereka tidak peduli dengan bahaya yang mengancam dirinya. Mereka tidak peduli dengan bagaimana udara sekitar menjadi tercemar akibat ulahnya. Yang mereka pikirkan hanya mendapatkan kepuasan dari merokok, tanpa berpikir panjang.

Secara langsung atau tidak, egoisme perokok ini berdampak secara sosial. Ambil saja contoh kasus pembunuhan Pedanda (pemuka agama hindu) pada bulan Desember tahun 2013 yang lalu. Kasus yang sempat menghebohkan daerah Mengwi dan sekitarnya ini bermula dari bagaimana egoisnya seorang perokok. Yang lebih mencengangkan adalah pembunuh dari Pedanda tersebut adalah anaknya sendiri. Kejadian tersebut berawal dari sang anak yang akan meminta uang sejumlah Rp. 2000 untuk membeli rokok kepada ibunya. Namun karena tidak memiliki uang, sang ibu pun tidak memberikannya. Karena emosi, sang anak pun mengaku pertama kali akan menusuk ibunya. Sebab, dia merasa terancam lantaran saat itu ibunya memegang pisau. Namun, sang ayah yang berusaha menghalangi justru ikut ditusuk oleh pelaku hingga langsung terkapar bersimbah darah dan tewas di tempat. Pelaku juga mengaku mengkonsumsi Narkotika jenis shabu sejak masih duduk di bangku SMP. Contoh kasus pembunuhan terhadap Pedanda tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya dampak sosial yang ditimbulkan akibat perilaku merokok. Beberapa riset juga mengaitkan tentang hubungan antara perokok dengan kecenderungan menggunakan Narkoba. Misalnya saja penelitian yang dilakukan oleh Profesor Dr. Nurul Ilmi Idrus dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia telah mewawancarai lebih dari 200 pecandu Narkoba dan ternyata mayoritas responden menyatakan mereka menggunakan narkoba diawali dengan menjadi perokok dan kebanyakan dilakukan pada awal masa remaja.

Melihat contoh kasus diatas dapat digambarkan bagaimana dampak buruk merokok tidak hanya dari sisi kesehatan saja, dampak sosial/perilaku yang ditimbulkan akibat merokok juga tak kalah buruknya. Dari perspektif kesehatan tentu akibat buruk dari merokok tidak hanya dirasakan oleh perokok itu sendiri, yang bukan perokok pun (perokok pasif) ikut kena imbasnya. Asap yang ditimbulkan dan terpaksa dihisap oleh orang lain kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama. Hal ini disebabkan tembakau terbakar pada temperatur lebih rendah ketika rokok sedang dihisap yang membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan banyak bahan kimia. Bahkan resiko terjadinya Kanker Paru dikalangan perokok pasif yang tinggal satu rumah atau satu kantor dengan perokok, lebih tinggi daripada mereka yang tinggal bersama non-perokok. Jika dilihat dari kaca mata sosial/berperilaku, dampak merokok jauh lebih merusak. Bayangkan saja ketika seorang anak tega membunuh ayah kandungnya sendiri hanya karena tidak diberikan uang untuk membeli rokok. Secara langsung atau tidak, rokok sudah merusak moral generasi muda. Generasi yang seharusnya menjadi masa depan bangsa, malah menjadi korban dari industri rokok.

Berbagai dampak tersebut tentu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Sudah banyak regulasi dan kebijakan yang dibuat untuk mengurangi berbagai dampak tersebut. Mulai dari UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mewajibkan setiap pemerintah daerah untuk membuat Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok, sampai yang terbaru yakni PP No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di Bali sendiri sudah ada Perda Provinsi yang mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok melalui Perda No. 10 tahhun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Sejauh ini Perda Provinsi Bali sudah berjalan efektif hampir 2 tahun. Lalu pertanyaannya kemudian, apakah regulasi ini efektif untuk mengurangi jumlah perokok? Atau paling tidak berbagai dampak buruk yang disebabkan akibat merokok dapat dikurangi?. Sejauh ini, keberadaan Perda cukup untuk membuat perokok berpikir dua kali untuk merokok di tempat-tempat umum. Lihat saja ketika Sidak beberapa waktu yang lalu di sebuah rumah sakit terbesar di Bali. Pengunjung rumah sakit yang kedapatan merokok langsung dilakukan sidang ditempat dan dikenakan tindak pidana ringan. Walaupun denda yang diberlakukan tidak seberapa, paling tidak ada efek “malu” yang didapat, dengan harapan mereka jera dan tidak lagi mau sembarangan merokok di tempat umum.

Hanya dengan regulasi dan kebijakan saja tentu tidak cukup untuk mengurangi dampak buruk rokok atau dalam skala yang lebih besar mengurangi dampak buruk dari industri pertembakauan. Regulasi tentu dibuat untuk mengatur perokok/industrinya atau paling tidak melindungi non-perokok. Tapi akan lebih baik seandainya jika tidak ada perokok dan tidak ada industri rokok. Namun itu nyaris mustahil mengingat orang-orang dibalik industri rokok adalah orang-orang besar dengan uang tak terbatas. Apapun bisa mereka lakukan, berapapun uangnya mereka bisa bayar, demi kelancaran industri mereka. Cara melawannya adalah tentu saja jangan merokok, kemudian ajak orang-orang sekitar kita untuk tidak merokok. Sebuah cara yang sangat sederhana tapi akan berdampak besar. Edukasi sedini mungkin tentang bahaya rokok juga penting mengingat kebanyakan orang merokok memulainya ketika masa remaja. Batasi iklan dan promosi rokok dengan komitmen kuat dari pemerintah dan seluruh stakeholder terkait. Bahwa merokok sama sekali tidak ada dampak positifnya sama sekali dilihat dari perspektif manapun. Seperti peringatan dibalik bungkus rokok yaitu “Rokok Membunuhmu” sebaiknya sedikit dimodifikasi menjadi “Rokok Membunuhmu.. dan Orang Disekitarmu”.

Sumber 1

Sumber 2

Sumber 3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s