Politidealism

Ini Pilkada serentak apa Pilpres. Semua penduduk Indonesia seolah-olah larut dalam dinamika politik DKI Jakarta yang bagi saya sendiri sesungguhnya gak terlalu penting. Daerah saya Bali, dan Kota Denpasar tahun ini gak melakukan Pilkada karena memang belum waktunya. Memang bukan DKI Jakarta saja yang melakukan Pilkada, ada beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota lain yang juga menggelar Pilkada. Tapi kenapa semua tertuju pada pilkada DKI Jakarta?

Jawabanya ya karena DKI Jakarta Ibukota dari Indonesia yang konon perwakilan semua penduduk Indonesia ada disana, tentu menjadi sorotan. Selain itu semua media yang mengaku media nasional setiap hari memberitakan pilkada DKI melulu. Media yang katanya nasional tapi beritanya DKI melulu, beritain di daerah kalau ada bencana doang, syedih.

Awal-awal Pilkada sempet suka mengikuti perkembangan DKI karena penasaran sama konsistensi dan idealisme seorang Ahok. Dia pernah mundur dari Partai Gerindra karena partainya itu mendukung UU yang menyatakan bahwa Kepala Daerah dipilih oleh DPRD. Trus  dia juga dengan pede bilang mau maju Independen yang konon kabarnya KTP yang dikumpulin teman Ahok udah 1 juta. Sebagai anak muda yang belum tua, tentu idealisme dan semangat anak muda ala Ahok ini bikin saya penasaran dan menunggu-nunggu, Apakaah.. Ahoook.. akan Maju melaluiii jaluuurr.. Independen..??! *nada ala presenter silet*

Kemudian kejutan terjadi, ya sebenernya gak kejutan juga sih. Namanya juga politisi, apa yang dibilang jangan terlalu dianggap serius. Ahok memilih jalur partai yang dengan kata lain akan dengan sangat mudah untuk menang dengan satu putaran. Brut! Saya pun kentut.. penantian selama ini sia-sia.. haha. Ternyata susah cari politisi idealis di Indonesia. Mungkin yang idealis di Indonesia semuanya udah jadi dosen, atau dikucilkan dimasyarakat, syedih. Semenjak saat itu saya sudah males untuk ngikutin perkembangan Pilkada DKI Jakarta. Udah pasti menang telak..

Namanya juga politik, gak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Dulu Ruhut Sitompul ampe berbusa mulutnya dewa-dewain SBY, sekarang melipir belain Ahok. Dulu Anies Baswedan sang motivator berhasil membuat anak muda terbaik Indonesia meninggalkan zona nyaman buat ke daerah terpencil untuk mengajar, sekarang? Ah.. syudahlah.. namanya juga politisi. Eh, pak Anies akademisi atau politisi?

Entahlah, setelah semua calon mendeklarasikan diri, makin lama, makin males buat ngikutin. Semuanya serba politik, pake cara apa aja biar menang. Kadang-kadang dalam hati berpikir, ini orang-orang rebutan kekuasaan gini-gini amat. Trus kalau udah jadi Gubernur, trus nanti kaya, trus punya uang banyak, mati bawa uang? Cuman dibungkus kain doang trus milih mau masuk surga atau neraka. Eh, bisa milih gak ya? Atau ada motivasi lain? Sebagai batu loncatan jadi Presiden? Trus kalau udah jadi Presiden, trus nanti kaya, trus punya uang banyak, mati bawa uang? Hmmm.. Padahal kalau dipikir-pikir kalau mau kaya, seharusnya jangan jadi Pejabat. Tapi jadi Youtuber atau Selebgram, HAHA!

Anyway, terlepas dari itu semua saya gak mau membenci politik. Karena politik lah kita bisa hidup seperti sekarang. Bisa nulis blog, bisa makan martabak, bisa bikin rujak rambutan kekinian, bisa menyampaikan pendapat tanpa takut besoknya diculik. Politik cuma alat untuk memperjuangankan. Saya pernah denger kutipan entah dari siapa lupa yang bilang bahwa:

“Ketika kita sudah memperjuangkan sesuatu, disanalah kita berpolitik.”

-dari siapa gitu pokoknya, lupa.

Nah, sehari-hari sebenernya kita sudah berpolitik tanpa sadar. PDKT sama pacar juga berpolitik kok, soalnya kita memperjuangankan dia agar tidak di “juang” orang lain. HAHA! (juang dalam bahasa bali artinya “ambil”). Saya bukan ahli politik. Saya SMA jurusan IPA, kuliah jurusan Kesmas, cuman resah dan kadang-kadang heran aja kenapa gak ada politisi yang idealis di Indonesia? Kemungkinannya sih, (1) memang tidak ada, (2) ada tapi tak muncul ke permukaan, (3) ada dan muncul ke permukaan tapi cuman pencitraan, syedih. Atau jangan-jangan idealisme seorang politisi adalah dengan menjadi tidak idealis.

he..he.. he..

When you’re not idealist, you the real a politician.

Penjajah Itu Datang ke Surga (lagi)

Bali merupakan salah satu destinasi wisata favorit tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia. Pulau yang dijuluki Pulau Surga (The Island of Paradise) dengan beragam budaya dan keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Namun surga yang kita kenal dengan ketenangan, kenyamanan, dan keramahan masyarakatnya beberapa waktu lalu kedatangan “tamu” yang tidak diundang. Terlalu manis jika kita menyebutnya tamu, lebih tepat jika kita menamai mereka penjajah. Penjajah tanpa senjata namun membahayakan bangsa. Siapa mereka?

Akhir tahun lalu, kabar gembira datang bagi masyarakat Bali. Konferensi World Tobacco Asia (WTA) yang rencananya digelar pada tahun 2014 resmi batal dilaksanakan. Setelah berbagai elemen masyarakat dengan lantang menolak pelaksanaan kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali pun dengan tegas menyatakan sikapnya: MENOLAK. Penolakan itu sebagaimana termuat dalam surat ditandatangani Sekretaris Daerah Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun tertanggal 29 Juli 2013. Tak berselang lama, kegiatan serupa rencananya akan diadakan kembali di Bali. Penjajah tersebut datang dan menamai diri mereka “Inter-tabac Asia”. Inter-tabac Asia merupakan pameran dagang international untuk  produk-produk tembakau dan aksesoris merokok yang dikelola oleh Messe Westfalenhallen Dortmund GmbH yang bermarkas di Kota Dortmund, Jerman. Rencananya kegiatan tersebut akan diadakan di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) pada tanggal 27 -28 Pebruari 2014. Berdasarkan informasi dari pihak BNDCC-BTDC pihak penyelenggara Inter-Tabac sudah mengajukan ijin penyelenggaraan kegiatan dengan melampirkan surat ijin keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir Inter-tabac melakukan ekspansi ke wilayah Asia khususnya pada tahun ini akan difokuskan ke Indonesia dengan melakukan kegiatannya di Bali.

Bali si Pulau Surga nampaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi industri tembakau. Mereka yang di negara lain diusir karena kegiatan ini dianggap tidak bermanfaat dan cenderung merugikan, di Bali justru penjajah tersebut kembali diberikan ijin. Ironis memang ketika Bali sendiri sudah memiiki Perda Kawasan Tanpa Rokok yang salah satu poinnya adalah membatasi promosi dan iklan rokok. Di negaranya sendiri Jerman, bahkan kegiatan ini ditolak dan dilarang keras. Salah satunya adalah karena anak-anak tetap diperbolehkan membeli rokok tanpa ada pengawasan yang jelas. Selain itu Indonesia merupakan salah satu (dari sedikit negara) yang belum meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau (Framework Convention on Tobacco Control) yang dicanangkan oleh PBB. Akibatnya industri rokok dapat melakukan hampir segala sesuatu yang mereka inginkan disini. Mereka bebas datang menjajah bangsa kita. Mereka datang ke Pulau Surga kita untuk kepentingan kelompoknya. Mereka datang untuk meracuni generasi muda kita. Pulau yang seharusnya menjadi surga bagi masyarakat dan pengunjungnya untuk menikmati udara bersih tanpa asap rokok, kini kedatangan penjajah untuk yang kedua kalinya. Apakah kita hanya diam?

Inter-tabac Asia 2014 Akhirnya Batal

Setelah berbagai elemen masyarakat dari berbagai negara dan beberapa aksi penolakan yang cukup masif dilakukan khususnya di Bali, pelaksanaan kegiatan Inter-tabac Asia yang rencananya akan digelar di Nusa Dua secara resmi batal. Pembatalan pelaksanaan kegiatan Inter-tabac Asia secara tegas tertuang pada situs resmi penyelenggara Inter-tabac yang menyatakan kegiatan tersebut ditunda.

Dengan dibatalkannya Inter-tabac Asia, merupakan sebuah kemajuan besar bagi giat pengendalian tembakau di Bali dan Indonesia. Bali khususnya sudah berhasil “mengusir” 2 kegiatan serupa yakni World Tobacco Asia (WTA) dan saat ini Inter-tabac Asia. Perjuangan berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis, akademisi, mahasiswa/pelajar, dan pemerintah serta seluruh pihak yang sudah mendukung penuh penolakan Inter-tabac Asia berjalan dengan sukses, Inter-tabac batal digelar.

Akan tetapi, peluang dipindahnya pameran tersebut ke kota lain di Indonesia masih cukup besar. Seperti Pemerintah Provinsi Bali beserta jajarannya, dibutuhkan komitmen dari berbagai daerah di Indonesia untuk menolak pameran rokok serta kegiatan serupa diadakan di Indonesia. Menerima atau mengadakan pameran rokok, sama saja menjadikan Indonesia sebagai tempat sampah bagi industri rokok dimana hampir diseluruh dunia industri rokok sudah ditolak.

Harapannya, tentu saja industri rokok berpikir 1000 kali lagi untuk melakukan kegiatan sejenis khususnya di Bali. Bali membuktikan bahwa jika semua lapisan masyarakat bersatu, ditambah lagi komitmen dan konsistensi sikap dari pemerintah daerahnya, kegiatan seperti ini mustahil diadakan di Indonesia. Kedepan, semoga tidak ada lagi kegiatan dari industri tembakau dalam kemasan apapun, dengan dalih apapun mampir ke negeri kita tercinta. Jika kalian datang kembali, kami siap mengusir lagi. Berani? :)

“PERINGATAN: Merokok Membunuhmu.. dan Orang Disekitarmu”

Membahas tentang rokok dan industrinya memang tidak akan ada habisnya. Pro dan kontra dari setiap aspek industri ini memang sangat menarik untuk dibahas. Tentu aspek yang paling sering dibicarakan adalah dari sudut pandang kesehatan. Sudah banyak riset yang menunjukan bahwa merokok sebagai salah satu faktor resiko berbagai macam penyakit. Bahkan menurut WHO, 6 dari 8 penyebab kematian utama di dunia disebabkan akibat konsumsi tembakau diantaranya Penyakit Jantung Iskemik, Penyakit Kardiovaskular, Infeksi Saluran Pernafasan Bawah, Penyakit Paru Kronik Obstruktif, Tuberkulosis, serta Kanker Paru. Sebagian masyarakat tentunya beranggapan bahwa merokok merupakan kebiasaan yang buruk. Sebuah kebiasaan yang tidak ada manfaatnya, bahkan cenderung merugikan. Tapi disisi lain, tidak sedikit masyarakat yang sepertinya tutup mata dengan berbagai dampak buruk akibat perilaku merokok khususnya terhadap kesehatan. Mereka tidak peduli dengan bahaya yang mengancam dirinya. Mereka tidak peduli dengan bagaimana udara sekitar menjadi tercemar akibat ulahnya. Yang mereka pikirkan hanya mendapatkan kepuasan dari merokok, tanpa berpikir panjang.

Secara langsung atau tidak, egoisme perokok ini berdampak secara sosial. Ambil saja contoh kasus pembunuhan Pedanda (pemuka agama hindu) pada bulan Desember tahun 2013 yang lalu. Kasus yang sempat menghebohkan daerah Mengwi dan sekitarnya ini bermula dari bagaimana egoisnya seorang perokok. Yang lebih mencengangkan adalah pembunuh dari Pedanda tersebut adalah anaknya sendiri. Kejadian tersebut berawal dari sang anak yang akan meminta uang sejumlah Rp. 2000 untuk membeli rokok kepada ibunya. Namun karena tidak memiliki uang, sang ibu pun tidak memberikannya. Karena emosi, sang anak pun mengaku pertama kali akan menusuk ibunya. Sebab, dia merasa terancam lantaran saat itu ibunya memegang pisau. Namun, sang ayah yang berusaha menghalangi justru ikut ditusuk oleh pelaku hingga langsung terkapar bersimbah darah dan tewas di tempat. Pelaku juga mengaku mengkonsumsi Narkotika jenis shabu sejak masih duduk di bangku SMP. Contoh kasus pembunuhan terhadap Pedanda tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya dampak sosial yang ditimbulkan akibat perilaku merokok. Beberapa riset juga mengaitkan tentang hubungan antara perokok dengan kecenderungan menggunakan Narkoba. Misalnya saja penelitian yang dilakukan oleh Profesor Dr. Nurul Ilmi Idrus dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia telah mewawancarai lebih dari 200 pecandu Narkoba dan ternyata mayoritas responden menyatakan mereka menggunakan narkoba diawali dengan menjadi perokok dan kebanyakan dilakukan pada awal masa remaja.

Melihat contoh kasus diatas dapat digambarkan bagaimana dampak buruk merokok tidak hanya dari sisi kesehatan saja, dampak sosial/perilaku yang ditimbulkan akibat merokok juga tak kalah buruknya. Dari perspektif kesehatan tentu akibat buruk dari merokok tidak hanya dirasakan oleh perokok itu sendiri, yang bukan perokok pun (perokok pasif) ikut kena imbasnya. Asap yang ditimbulkan dan terpaksa dihisap oleh orang lain kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama. Hal ini disebabkan tembakau terbakar pada temperatur lebih rendah ketika rokok sedang dihisap yang membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan banyak bahan kimia. Bahkan resiko terjadinya Kanker Paru dikalangan perokok pasif yang tinggal satu rumah atau satu kantor dengan perokok, lebih tinggi daripada mereka yang tinggal bersama non-perokok. Jika dilihat dari kaca mata sosial/berperilaku, dampak merokok jauh lebih merusak. Bayangkan saja ketika seorang anak tega membunuh ayah kandungnya sendiri hanya karena tidak diberikan uang untuk membeli rokok. Secara langsung atau tidak, rokok sudah merusak moral generasi muda. Generasi yang seharusnya menjadi masa depan bangsa, malah menjadi korban dari industri rokok.

Berbagai dampak tersebut tentu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Sudah banyak regulasi dan kebijakan yang dibuat untuk mengurangi berbagai dampak tersebut. Mulai dari UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mewajibkan setiap pemerintah daerah untuk membuat Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok, sampai yang terbaru yakni PP No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di Bali sendiri sudah ada Perda Provinsi yang mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok melalui Perda No. 10 tahhun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Sejauh ini Perda Provinsi Bali sudah berjalan efektif hampir 2 tahun. Lalu pertanyaannya kemudian, apakah regulasi ini efektif untuk mengurangi jumlah perokok? Atau paling tidak berbagai dampak buruk yang disebabkan akibat merokok dapat dikurangi?. Sejauh ini, keberadaan Perda cukup untuk membuat perokok berpikir dua kali untuk merokok di tempat-tempat umum. Lihat saja ketika Sidak beberapa waktu yang lalu di sebuah rumah sakit terbesar di Bali. Pengunjung rumah sakit yang kedapatan merokok langsung dilakukan sidang ditempat dan dikenakan tindak pidana ringan. Walaupun denda yang diberlakukan tidak seberapa, paling tidak ada efek “malu” yang didapat, dengan harapan mereka jera dan tidak lagi mau sembarangan merokok di tempat umum.

Hanya dengan regulasi dan kebijakan saja tentu tidak cukup untuk mengurangi dampak buruk rokok atau dalam skala yang lebih besar mengurangi dampak buruk dari industri pertembakauan. Regulasi tentu dibuat untuk mengatur perokok/industrinya atau paling tidak melindungi non-perokok. Tapi akan lebih baik seandainya jika tidak ada perokok dan tidak ada industri rokok. Namun itu nyaris mustahil mengingat orang-orang dibalik industri rokok adalah orang-orang besar dengan uang tak terbatas. Apapun bisa mereka lakukan, berapapun uangnya mereka bisa bayar, demi kelancaran industri mereka. Cara melawannya adalah tentu saja jangan merokok, kemudian ajak orang-orang sekitar kita untuk tidak merokok. Sebuah cara yang sangat sederhana tapi akan berdampak besar. Edukasi sedini mungkin tentang bahaya rokok juga penting mengingat kebanyakan orang merokok memulainya ketika masa remaja. Batasi iklan dan promosi rokok dengan komitmen kuat dari pemerintah dan seluruh stakeholder terkait. Bahwa merokok sama sekali tidak ada dampak positifnya sama sekali dilihat dari perspektif manapun. Seperti peringatan dibalik bungkus rokok yaitu “Rokok Membunuhmu” sebaiknya sedikit dimodifikasi menjadi “Rokok Membunuhmu.. dan Orang Disekitarmu”.

Sumber 1

Sumber 2

Sumber 3

Biografi Skripsi

Udah dari dulu banget pengen nulis ini rasanya. Entahlah, ada saja halangannya. Halangan utamanya tentu saja MALES. Padahal rencananya pengen nulis ini jadi 3 sekuel #yaelahbro. Tapi mumpung lagi mood cukup buat satu sekuel aja ya!. Yang penting maknanya dapet. Jadi gini, ceritanya Artha yang ganteng itu lho, yang waktu SD pernah ngengek di celana udah sarjana sekarang. Nah perjuangan Artha yang ganteng itu menuju sarjana akan sedikit didongengkan disini. Bukan bermaksud menggurui, sok tau, ataupun menasehati. Namun cuman mau berbagi pengalaman yang dialami sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam proses menuju SARJANA. Silahkan disimak sampai akhir ya. Semoga bermanfaat! :D
CEKIDOT!

Ketika awal-awal memasuki semester akhir

Yep.. tepat setelah KKN-PPM periode V tahun 2012, kuliah semester akhir dimulai (semester VII). Kira-kira bulan September lah. Dan saya sendiri ngambil peminatan Administrasi & Kebijakan Kesehatan (AKK). Peminatan ini semacam penjurusan kembali kepada calon SKM dengan lingkup yang lebih kecil. Tujuannya ya tentu saja supaya tema tugas akhir lebih spesifik lagi sesuai minat masing-masing mahasiswa. Ada beberapa peminatan yang ada di IKM Unud. Kalau saya sendiri AKK, ada juga Epidemiologi, Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Gizi, Kesehatan Kerja, Kesehatan Ibu & Anak, dan Biostatistik. Seperti biasa dari tahun ke tahun peminat AKK tetep paling banyak. Entahlah apa penyebabnya. Mungkin karena dianggap paling gampang kali yak? Hanya asumsi, tapi kalau saya pribadi punya beberapa alasan untuk masuk peminatan AKK. Diantaranya adalah:

  1. Saya ini buta warna parsial. Jadi agak beresiko kalau memilih peminatan Gizi ataupun Kesling yang banyak berkutat di Lab. Walaupun sebenernya saya bisa bedakan warna kok, cuman pas tes ada aja beberapa yang salah tebak dan katanya parsial. Disini takutnya, pas nanti nyari kerja ada syarat gak boleh buta warna dan itu menjadi halangan.
  2. Skripsi untuk AKK itu gak membutuhkan biaya yang mahal dan cenderung simpel. Yah, walaupun relatif sih tapi rata-rata demikian. Cuman modal kuesioner dan pulpen aja bisa jadi Skripsi kok. Waktu itu sih mikir: “kalau bisa skripsi murah dan simpel, ngapain nyari yang ribet dan mahal?”

Itu aja sih alasannya, selain juga ada ketertarikan tentang kebijakan (sedikit), namun alasan utamanya ya dua hal diatas tadi. Waktu itu bukan mengikuti passion atau bener2 berminat AKK, tapi lebih berpikir realistis: “Yang penting bisa lulus tepat waktu dan gak bayar SPP cuman buat nunggu wisuda.”

Kuliah peminatan kurang lebih selama 2 bulan. Sistemnya blok. Agak kagok sih dengan sistem ini. Melelahkan. Hampir setiap hari ada tugas dan kuliahnya ampe sore kadang2. Jenuh dan yang paling utama ketika itu belum punya rencana mau magang dimana. Magang dihatimu aja boleh? #eh

Iyaa, bener2 gak tau mau magang dimana. Galau, Gundah, Gulana, Cetar, Me-langlang-buana deh pokoknya. Akhirnya terpaksa ikut2an temen deh. Daftar magang di PT. Askes. Udah ngebayangin gimana ntar disana, makan siang dimana, strategi bolos gimana, dan pada akhirnya surat balasan dari PT. Askes pun diterima. Ternyata PT. Askes lagi ada akreditasi gitu, jadi gak mau nerima mahasiswa magang. Padahal tahun2 sebelumnya rutin kakak kelas magang disana. Karena waktu yang udah bener2 mepet, akhirnya milih magang di Puskesmas saja yang administrasi dan surat menyurat tidak terlalu ribet. Singkat cerita, saya akhirnya magang di Puskesmas I Denpasar Barat (lain kali saya ceritain deh beberapa pengalaman magangnya ya, kalo lagi mood :p ). Puskesmas I Denbar ini letaknya di sebelah SMA 4 Denpasar. Kenapa memilih disana? alasannya cukup aneh memang. Soalnya Puskesmasnya tingkat dan ada UGD-nya. HAHAHA! Dan.. setelah magang 7 minggu di Puskesmas tidak juga membuat saya dapet ide untuk Skripsi. Deadline semakin dekat, wajah semakin pucat, judul tak jua didapat. #GalauItuRibet #TidakLagiSederhana

Waktu magang sih saya ngambil masalah untuk laporan tentang mutu pelayanan di Puskesmasnya. Tentang gimana sih pelayanan Puskesmas kepada masyarakat serta infrastrukturnya. Nah, awalnya laporan itu mau dipake judul Skripsi tapi entahlah. Saya gak tertarik ambil ‘mutu’ buat Skripsi. Padahal kalau mau mah gampang. Data udah ada, orang disana udah pada kenal juga. Tapi sampai disini saya baru sadar, Skripsi bukan hanya soal selesai, tapi juga tentang KENYAMANAN. Idealis ya? Tapi beresiko.. :D

Memasuki masa kritis Semester VIII (Awal dari sebuah akhir)

Antara seneng, terharu, dan beban juga udah memasuki semester akhir. Semester yang kata orang semester KERAS. Penuh intrik, tekanan, deadline, dan hal yang gak mengenakan lainnya. Di semester ini saya hanya ngambil satu mata kuliah yaitu Skripsi. Keren ya? Tapi apanya yang keren coba. Baru masuk semester ini udah ditodong judul sama kepala bagian. Ada deadline untuk mengumpulkan outline rencana penelitian atau kita sih nyebutnya proposal mini. Jadi semua mahasiswa wajib menyetor judul beserta kerangka rencana penelitian secara singkat, untuk kemudian nantinya dapet nama pembimbingnya masing2. Nah, pembimbing nya disini disesuaikan dengan tema rencana penelitian kita. Karena tidak juga mendapat ide dan inspirasi walaupun hampir setiap hari jongkok di WC, alhasil jalan singkat pun ditempuh #tsaaah. Gak singkat2 amat sih, jadi intinya gini. Dulu waktu semester VI dapet mata kuliah Metodologi Penelitian, nah di mata kuliah tersebut ada tugas untuk buat proposal penelitian namun berkelompok. Ketika itu judul proposalnya adalah: “Tingkat Pengetahuan Karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar terhadap Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Bali”. Karena temen kelompok yang lain gak ada yang ngambil judul ini akhirnya saya yang ngambil deh. Tapi… saya gak pake ini 100%. Saya modifikasi sedikit sesuai dengan kemampuan, waktu, biaya, dan kira2 menarik. Hanya mengambil sedikit latar belakang dan beberapa poin dari laporan tersebut. Ketika itu saya ngumpul proposalnya termasuk diawal-awal. Strategi saya adalah biar kebagian pembimbing dari dosen IKM. Karena seperti kita ketahui bersama, peminatan AKK ini yang paling banyak manusianya sementara dosen yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, kekhawatiran saya ketika itu adalah dapet dosen pembimbing dari luar yang bimbingannya mesti ke luar Kabupaten. Kan berat diongkos jadinya cuman buat bimbingan doang. Visioner banget ya, padahal tinggal minta aja dikasi uang bensin kok! hehehe. Nah, akhirnya proposal mini yang saya kirim itu judulnya: “Persepsi Petugas Puskesmas di Kota Denpasar terhadap Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Bali”. Ini beberapa alasan kenapa judul ini yang akhirnya muncul ke permukaan:

  1. Memilih “Persepsi” karena kata kakak kelas ini gampang. Kita meneliti persepsi orang, dan ketika sidang nanti gampang ngeles sama penguji2.
  2. Saya memilih Puskesmas karena biar ada unsur magangnya sedikit. Sebab banyak temen2 yang ngambil judul dari tempat magang. Yah intinya biar magang ada kontribusi dikit buat Tugas Akhir.
  3. Memilih tentang Kawasan Tanpa Rokok karena latar belakangnya udah jadi di proposal mini tersebut. Tinggal diedit sedikit saja.
  4. Memang ada interest sedikit tentang masalah rokok, sebab masalah rokok ini masih kontroversi dimasyarakat. Yang pro dan kontra jumlahnya nyaris seimbang. Dan kalo diteliti nantinya pasti menarik.

Anyway, setelah setor proposal mini kira2 akhir bulan Desember 2012, beberapa minggu kemudian diumumkan nama2 pembimbing Skripsi untuk tiap mahasiswa. Agak deg2an juga sebab kata pepatah “pembimbing menentukan masa depan” #cakeeep. Pepatah dari mana coba itu. Dan setelah lama menunggu akhirnya nama yang ditunggu2 itu…. Iya, agak diluar ekspektasi.. akhirnya dapet pembimbing dari dosen IKM sih namun bukan dosen AKK “……”

Pembimbing saya adalah bapak KTR Indonesia, yaitu.. Pak Kerta Duana yang sesungguhnya adalah dosen Kesehatan Kerja. Tetep bersyukur saja sih, cuman berharap bisa kerjasama dengan baik sampai maut memisahkan. ~

Menyusun proposal.. paling melelahkan!

Pak Kerta ini sepak terjang di dunia per-KTR-an sudah tidak diragukan lagi. Beliau salah satu tim perumus Perda KTR di Bali. Selain jadi dosen IKM, beliau juga aktivis anti tembakau garis keras. Kalau ada acara anak IKM tentang anti rokok beliau lah orang dibalik layarnya. Ketik aja di google “Kerta Duana KTR” untuk info lebih lanjut tentang beliau. Sebelum jadi dosen pembimbing, saya secara pribadi hanya mengenal Pak Kerta layaknya dosen IKM biasa. Waktu ngajar dulu tentang Kesehatan Kerja cukup baik sih. Saking baiknya setiap beliau ngajar kelas pasti ribut. -____-

Ketika bimbingan untuk kali pertama, sayapun memberikan proposal mini tersebut untuk diberi masukan. Hasilnya sungguh mencengangkan: DITOLAK! -____- #yaelahbro

Gilaa.. kalau ditolak apa yang mau saya teliti ini? Ketika deadline semakin dekat tapi ide tak lagi datang merapat. Alasan beliau menolak sebenernya masuk akal sih. Rencana saya adalah meneliti persepsi petugas Puskesmas terhadap kebijakan KTR. Lha!? untuk apa meneliti yang jawabannya (mungkin) secara normatif sudah kita ketahui. Kalau kita tanya setiap petugas Puskesmas pasti nanti jawabannya yang baik2 aja. Apalagi persepsi, banyak bias pasti nantinya. Nah, setelah berdiskusi dan meminta saran dan masukan, beliau memberi ide serta alternatif penelitian yang lebih menarik. Saya disuruh untuk meneliti bagaimana sebuah instansi atau tempat yang memberlakukan KTR mengimplementasikan kebijakan KTR tersebut. Bisa disekolah, ditempat kerja, dipelayanan kesehatan, dll. Setelah dipikir-pikir apanya.. apanya.. apanya dong, penelitian ini cukup menarik juga dan yang paling penting orisinil. Selama ngubek2 perpustakaan kampus belum ada penelitian serupa. Serupa dalam arti meneliti “implementasi Kebijakan KTR di sebuah instansi” khususnya di Bali. Secara ikatan batin #aiihsedap, akhirnya kita berdua deal dengan topik penelitian yang ini. Masalah instansinya, judul, serta variabel penelitiannya saya menentukan sendiri dulu sebelum nantinya direvisi dan diberi masukan kemudian.

Singkat cerita akhirnya saya memilih RSUP Sanglah sebagai instansi penelitian. Kenapa milih Sanglah? Agak gambling sebenernya sebab bener2 gak tau bagaimana kondisi serta lingkungan disana. Belum lagi banyak temen2 yang bilang kalau penelitian disana itu birokrasinya ribet, orang2nya galak2, belum lagi saya bener2 orang luar. Gak punya kenalan, kerabat, atau keluarga yang kerja di Sanglah. Awal2 agak ragu tapi entah kenapa hati saya berkata lain. Hati saya seolah berkata: “Belum dicoba, belum penelitiannya jalan, kok udah nyerah?”. Akhirnya dengan hati yang terbuka yang berdasarkan Pancasila saya tetapkan lokasi penelitian di Instansi tersebut. Ada beberapa hal yang membuat saya memilih sebuah instansi kesehatan dalam hal ini rumah sakit sebagai tempat penelitian. Instansi kesehatan (Rumah Sakit) kalo kasarnya kita bilang tempat berkumpulnya orang2 sakit agar kesehatannya pulih. Tapi disisi lain rumah sakit juga merupakan tempat umum yang siapa saja boleh mengunjungi. Tidak hanya sebatas orang sakit, pengunjung, pembesuk, atau pedagang koran juga boleh masuk kalau mau. Nah dengan banyaknya orang berkunjung tersebut tidak bisa dipungkiri masih saja ada orang yang merokok walaupun tanda2 larangan merokok udah segede baliho Ormas berbadan kekar. Terlebih RSUP Sanglah merupakan rumah sakit terbesar di Bali, rumah sakit dengan pengunjung perharinya banyak bahkan menjadi rumah sakit rujukan se-Bali Nusra. Selain itu dari beberapa media online yang saya baca, Sidak Satpol PP beberapa waktu lalu masih saja ditemukan perokok maupun puntungnya di sekitar area Rumah Sakit. Nah, kompleksitas dari berbagai hal tersebut saya rasa sangat menarik untuk diteliti. Namun saya melihat dari sisi rumah sakitnya. Bagaimana sih mereka melaksanakan/mengimplementasikan sebuah kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Gituu.. Karena Perda KTR juga lagi anget2nya ketika itu (Perda No. 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok) maka fokus dari penelitiannya adalah bagaimana Rumah Sakit Sanglah mengimplementasikan Perda KTR tersebut sesuai dengan ketentuan tertulis dari perda KTR-nya.

Setelah kira2 punya gambaran rencana penelitian dan disampaikan kepada pembimbing. Fokus berikutnya adalah: SELESAIKAN PROPOSAL! Saya adalah jenis mahasiswa yang buat dulu baru bimbingan. Bukan bimbingan dulu baru buat. Maksudnya gini, semua yang ada diotak dan pemikiran, saya buat pada proposal penelitian sampai fix. Bener2 sampai selesai baru kemudian bimbingan. Agak beresiko memang sebab seandainya kalo salah sedikit, bisa2 ngulang dari awal. Untungnya setiap bimbingan kalau revisi masih bisa diatasi lah. Masih keburu waktu. Jadi ketika proposal (versi saya) selesai, saya kasih pembimbing buat direvisi kemudian perbaiki segera, kasih pembimbing lagi, perbaiki lagi. Terus gitu sampe proposal bener2 dianggap siap untuk maju. Bersyukur banget proposal bisa maju dan akhirnya ujian proposal sebelum deadline membunuh. HOREE!

Ujian proposal saya kalo gak salah tanggal 5 Maret 2013 dengan beberapa sahabat dahsyat yang meramaikan. Revisi pasti ada.. lulus ujian dengan perbaikan. Namun hanya beberapa hal non-teknis. Dan akhirnya judul yang diterima adalah: “Analisis Implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Tahun 2013” Wuuiiih.. panjang bener yak.. kayak antrian Theater JKT48.. :D

Bersyukur banget ketika itu bisa selesai proposal-an. Masa2 paling melelahkan. Masa2 dimana perpustakan menjadi rumah kedua, laptop menjadi pacar kedua, serta pembimbing sebagai pendamping hidup sementara selesai juga. Senaaang! Satu langkah lagi menuju sarjana walaupun masih nengkleng. :P

Masa-masa penelitian

Kalau saya menganalogikan proposal itu seperti kita membuat anak panah dan penelitiannya itu seperti busur panah. Ketika anak panah sudah runcing dan beracun, tinggal bagaimana busur panah mengarahkan anak panah tersebut kesasaran. Nah, proses penelitian ini sebenernya tinggal menjalankan apa hal-hal yang terdapat pada proposal. Disinilah pentingnya sebuah proposal yang benar2 mantap. Proposal bukan hanya sekedar syarat “disetujuinya” sebuah penelitian tapi merupakan landasan kita untuk melakukan setiap tindakan sekecil apapun. Akan sangat penting untuk memperhatikan hal2 teknis dan non-teknis dari setiap detail. Setelah proposal selesai direvisi dan disetor ke TU, langkah berikutnya adalah mengurus ijin penelitian. Masa2 ini sempet bikin galau juga ketika itu. Sebab bisa dikatakan untuk ngurus ijin penelitian saja saya menunggu kepastian selama hampir 2 bulan. Untuk diketahui, yang bikin lama adalah turunnya ijin dari Komisi Etik FK Unud. Iyaa.. saya juga baru tau ini. Jadi setiap siapapun yang mau melakukan penelitian di RSUP Sanglah, harus di-review dulu proposalnya. Dibaca, dicermati dan kalau benar2 sudah layak proposalnya baru boleh penelitian disana. Yang bikin lama lagi adalah ternyata proposal saya dinyatakan perlu direvisi lagi oleh reviewer-nya. Walaupun sedikit sih, cuman disuruh nambahin informed consent atau lembar informasi penelitian. Tapi cukup menyita waktu. Bayangkan ketika temen2 lain ada yang sudah mau selesai penelitian namun saya sendiri belum mulai sama sekali. #BadLuck

Saya belum mau menyerah ketika itu. Dengan waktu yang super mepet, surat ijin penelitian akhirnya keluar juga. Dengan kecepatan bekicot yang naik kereta shinkanzen, saya persiapkan semua hal terkait proses penelitian. Mulai dari panduan wawancara mendalam, alat perekam suara, wajah yang ganteng serta senyum yang manis. Nah, untuk Skripsi saya ini saya mengambil metode kualitatif. Baik proses pengambilan data, pengolahan data, penyajian data bisa dibilang semuanya kualitatif. Intinya sih saya melakukan wawancara kepada responden yang sudah ditetapkan pada proposal. Wawancaranya ya seputar KTR, baik berupa informasi yang diketahui responden, pengetahuan reponden dan juga persepsinya terkait Perda dan implementasinya di RSUP Sanglah. Nah, hasil wawancara tersebut kemudian saya transkrip ke bentuk tulisan. Hasil transkrip tersebutlah bisa dikatakan hasil penelitian mentah, sebelum nantinya kemudian diolah sesuai kebutuhan dan tujuan penelitian.

Ketika melakukan wawancara bisa dibilang cukup lancar tapi nggak lancar-lancar banget. Beberapa responden menolak untuk diwawancara. Kadang dioper-oper juga kayak bola voli kesana kemari buat ketemu responden. Bahkan ada responden dari pihak rumah sakit, kita sebut saja Melati menunjukan gelagat seperti “tidak suka” terhadap mahasiswa yang penelitian disana. Ketika saya mau mewawancarai melati ini kesannya menutup-nutupi informasi dan seperti orang marah2 kepada saya. Ketika saya ajak berdebat dia seolah tidak mau kalah padahal saya sendiri bukan bertujuan untuk menang. Ijin untuk penelitian juga saya udah punya. Sadar saya gak mungkin menang karena saya sedang “bertandang kerumah orang” akhirnya saya mengalah. Kalau kata pepatah “YANG GANTENG NGALAH” hehehe. Melati ini bisa dikatakan pegawai biasa lah, dan yang saya tangkap sih melati takut kalau kinerjanya diungkap ke publik melalui hasil penelitian saya. Padahal ya saya bukan nyari benar atau salah terkait kinerja seseorang tapi cuman mau nyari informasi yang saya butuhkan saja. Identitas responden juga dirahasiakan kok udah saya jelasin padahal. Tetep dia gak mau ngerti, bener2 berasa debat ama Habieb Rizieq yang gak mau dengerin pendapat orang. Akhirnya dihari berikutnya saya menceritakan hal tersebut kepada atasan dari Melati. Beberapa hari kemudian saya bertemu Melati lagi dan saya bilang sudah memeiliki ijin dari atasannya. Apa yang terjadi? Yap! Akhirnya saya sukses mewawancarai melati. Walaupun sebel juga liat wajahnya. Gaya ngomongnya itu nyebelin banget. Wajahnya (maaf) jelek pula. HAHAHA! Namun demikian informasi dari Melati cukup berharga untuk hasil penelitian saya. Itulah mengapa saya ngotot untuk mewawancarai dia, walaupun sedikit dongkol juga hati ini.

Selain pengalaman tadi, ada hal-hal unik lain yang saya temui selama di Sanglah. Ada responden yang dengan gamblang menjelaskan area2 dilarang merokok, bahwa disini tidak boleh merokok eh, pas mau pulang ketemu diparkir dia lagi merokok #yaelahbro. Banyak lagi hal-hal yang menarik sebenernya selama penelitian selama 7 hari ketika itu. Namun, yang paling membekas adalah seperti hal yang saya sampaikan diatas. Setelah penelitian selesai, langkah berikutnya adalah mengolahnya, menyelesaikannya, bimbingan, revisi, bimbingan, revisi, bimbingan, sampai tanda tangan pembimbing diterima untuk kemudian maju sidang. Agar kaki yang nengkleng tadi segera mendarat berdampingan dengan kaki yang sudah selangkah didepannya. B-)

Ketika Sidang itu..

Singkat cerita tanda tangan pembimbing akhirnya didapat. Sebuah perjuangan yang luar biasa untuk bisa dapet tanda tangan terakhir supaya bisa maju sidang. Sebab bisa dibilang revisi setelah penelitian ini yang paling banyak dan paling agak ribet. Setelah perjuangan yang bener2 melelahkan akhirnya bisa juga setor ke TU walaupun telat beberapa hari dari deadline. Ketika itu deadlinenya hari jumat dan saya ngumpulnya dihari rabu minggu berikutnya. Agak galau juga sebab jadwalnya mepet banget dengan yudisium. Takutnya gak dapet jadwal karena ngumpul telat. Yah, tetep optimis aja ketika itu. Biar telat asal selamat, biar telat yang penting skripsi mantap #tsaaah. Dan setelah sekian lama, akhirnya dapet jadwal sidang juga sebelum yudisium. Tepat tanggal 20 Juni 2013 pukul 11.00 Wita. Artha yang waktu SD pernah ngengek di celana itu akhirnya sidang juga. Suasana sidang ketika itu tidak semencekam yang dipikirkan. Lebih seperti tanya jawab dan menjelaskan apa yang kita buat. Para pengujinya pun santai, gak ada marah2 atau jutek2an. Bahkan para pengujinya pada ngelawak didepan saya. Serius, mereka bercanda satu sama lain dan saya menikmati “hiburan” tersebut ditengah hati yang gundah gulana. Mungkin karena pengujinya semua dari kampus + pembimbing yang suka bercanda, hasilnya ya gitu, sidang rasa kumpul2 keluarga yang lagi kangen2an. Tapi, ada juga serius2nya kok. Beberapa penguji mengatakan kalau penelitian saya kurang mendalam. Maksudnya ada informasi2 yang sebenernya bisa digali lagi dan hasilnya pasti lebih menarik. Namun demikian, beberapa hal yang bikin saya seneng. Kata salah satu penguji skripsi saya ini minim kesalahan penulisan dan rapi sekali. Hampir tidak ada salah ketik dan kesalahan tata bahasa. Dan kata pembimbing, skripsi saya ini udah kayak cerita. Ketika beliau membacanya sangat menikmati dan mengikuti.. sampai ketiduran katanya. -____- #LawakAbis

Nah, setelah presentasi dan tanya jawab, saya pun disuruh keluar agar para penguji dan pembimbing mendiskusikan apakah saya lulus sidang atau tidak. Dan kalau lulus apakah dengan perbaikan atau tidak dan nilainya berapa. Agak deg2an tapi tetep optimis sih. Kalau gak lulus paling minum baygon. Dan setelah 10 menitan diluar akhirnya disuruh masuk deh. Dag-dig-dug-ser jantung ini rasanya. Suasana tiba2 sunyi, hanya terdengar suara detik dari jam dinding. Para penguji pun bertanya: “Udah siap?” saya pun menjawab: “Sudaaah.. Kakaaa..” sembari menggoyang2kan kaki karena grogi. Akhirnya diumumkan bahwa saya lulus sidang namun dengan perbaikan dan nilainya 3,31. LEGA! Pengen langsung berlari kepantai, nyebur ke laut, dan teriak kenceng2 rasanya. Perjuangan selama ini akhirnya berakhir juga. SAYA LULUS SIDANG!. Perasaan ketika itu campur aduk sebenernya, lega, seneng, terharu, semua deh ada disini. Ketika itu pembimbing bertanya kembali: “Cukup nilainya segitu? Kalau kurang saya tambahkan..?” karena saya orangnya malu-malu, saya bilang cukup saja lah. Berapa saja nilainya saya terima kalau memang itu sudah keputusan penguji sekalian. Walaupun agak minder juga sebab temen2 lain yang saya tanya nilainya banyak yang gede juga. Yang bikin saya semangat ketika itu adalah kata pembimbing: “Walapun ada informasi yang kurang dari skripsinya, saya lebih banyak respect-nya.. dan yang pasti skripsi ini berguna dan bisa saya bawa kemana-mana”. *mata berkaca-kaca* itulah kata pembimbing sebelum sidang selesai. Entahlah, saya lebih seneng karya saya dihargai dengan cara seperi itu daripada dengan nilai yang tinggi. Dan akhirnya saya pun menyalami semua penguji dan pembimbing satu persatu. Selesai juga.. FIYUUUH! dan sedikit lagi menuju eS Ka eM! :)

Pasca Sidang dan yang terjadi adalah..

Setelah sidang hanya dapet waktu kurang lebih satu minggu untuk revisi lagi, sebelum ngurus berkas untuk yudisium. Ujian tanggal 20 Juni 2013, yudisium tanggal 5 juli 2013 dan daftar yudisium paling lambat seminggu sebelumnya. Mepet-pet-pet. Namun sekali lagi bisa dilewati juga.. akhirnya saya bisa yudisium tepat pada waktu yang sudah ditentukan untuk wisuda bulan Agustus. Ini dia! :D

Foto via Instagram @wismajenky

Dan akhirnya yang dinanti selama ini.. saya bisa wisuda tepat waktu juga.. 3 Agustus 2013

Wisuda

Nah, setelah semua berakhir.. ada beberapa kejutan yang datang menghampiri masih terkait Skripsi. Sedikit gak nyangka sih sebenernya dan kejutannya adalah abstrak Skripsi saya ini lolos ke Forum Kebijakan Kesehatan di Kupang. Ceritanya gini. Jadi setiap tahun ada namanya Forum Kebijakan Kesehatan. Jadi ahli-ahli kebijakan kesehatan seluruh Indonesia itu kayak buat pertemuan gitu setiap tahunnya. Nah, untuk tahun ini forumnya dilaksanakan di kupang berbarengan dengan Kongres Nasional ke-12 IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat) ketika itu.  Dalam rangka itu, siapapun yang punya penelitian atau review artikel boleh mengirimkannya kepada panitia forum tersebut atau istilahnya call for paper. Nah, karena setiap tahun juga rutin dari IKM Unud ngirim abstrak, dari kepala bagian AKK dikirimlah beberapa abstrak dan dipilih yang kira2 menarik serta sesuai dengan tema yang ditentukan. Setelah dikirim oleh kepala bagian, betapa kagetnya saya ketika mendapatkan email sebagai berikut:

Email Pertama

Email Pertama

Pada email tersebut mengatakan bahwa saya mendapat kesempatan untuk ke Kupang, presentasi disana, dengan syarat merevisi beberapa hal dan membuat surat pernyataan. Seneng sih tapi gak terlalu ngarep, sebab saingan nya seluruh indonesia dan sama orang2 yang ahli dibidangnya pulak. Kayaknya cuman saya aja yang fresh graduate from the open. Nah, jadi kalau lolos tahap selanjutnya yaitu 15 besar dapet beasiswa full katanya. Ke kupang gratis dengan semuanya disana ditanggung. Cuman modal presentasi trus dapet jalan2 gratis siapa yang ga ngiler coba? Namun beberapa hari kemudian dapet email lagi. Isinya kayak gini:

Email Kedua

Nah, menurut email diatas katanya kalau gak lolos 15 besar dapet insentif 1 juta, tapi akomodasi dan transportasi tidak ditanggung. Jadi tiket pesawat dan lain-lain kita sendiri yang nanggung, cuman gratis biaya ikut Konas IAKMI aja senilai 1 juta rupiah. Hmm.. Dari sini mulai menentukan sikap: KALAU GAK GRATIS GAK BERANGKAT. *emot preman nodong*

Kemudian setelah lama menunggu ada email lagi yang masuk:

Email Ketiga

Kata email tersebut, saya LOLOS untuk ke Kupang, udah disuruh presentasi disana tapi ya gak dikasi biaya. Hanya biaya disana saja gratis. Biaya transport uang sendiri katanya. Karena sudah menentukan sikap kalau gak gratis gak berangkat akhirnya saya memutuskan untuk gak jadi berangkat deh. Sudah ditelpon beberapa kali sama panitianya. Sempet diajak nego juga sama dosen buat bayarnya setengah-setengah, tapi ya saya memang kebetulan gak ada uang. Dan buat minta sama orang tua juga gak tega. Akhirnyaa.. yang jadi berangkat ke Kupang cuman abstraknya saja. Penulisnya cuman bisa senyum2 dirumah sambil ngemil pepsodent. Dan yang bikin heran di email terakhir ini kenapa saya dipanggil ibu ya? Padahal email sebelumnya dipanggil bapak. Apakah nama I Gede Artha Kusuma se-feminim itu -____- #AkuLelakiLemah

Setelah gagalnya berangkat ke kupang, ada satu kejutan lagi. Abstrak saya lolos poster presentation di International Seminar and Symposium dengan judul “Social Determinants of Health: The MDGs and Beyond” yang keynote speaker-nya Ibu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Kali ini tempatnya di kampus FK Unud dan bener2 gratis. Cuman modal ngeprin poster doang udah bisa ikut seminar 2 hari dengan semua fasilitas mulai dari seminar kit, sertifikat, snack, dan yang paling penting makan siang gratis yang enak. HAHAHA! Lumayan lah.. dapet dengerin Bu Menkes cuap2, kesempatan yang jarang banget, terlebih lagi ini gratis. :p

Huehehe.. mungkin itu tadi dongeng singkat tentang perjalanan dari tugas akhir saya. Luar biasa memang namun ada harga yang setimpal untuk kerja kerasnya. Dan saya jujur puas. Puas bangeet. Puas secara batin terutama dan tentunya kepuasan yang gak bisa dibayar pake uang. Disini saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang sudah membantu kelancaran tugas akhir saya. Ada beberapa pihak yang gak ada di lembar persembahan skripsi namun cukup berperan dalam penyusunan skripsi ini. Diantaranya adalah:

1. Agung Semarajaya/@agungsemarajaya

Ahli jaringan yang baru saja menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Sydney inilah yang menerjemahkan abstrak skripsi saya menjadi bahasa inggris. Sangat membantu apalagi ketika itu deadline mepet :p

2. Hardian Afriyudi/@HardianAyudi

Temen sejawat satu pembimbing ini sangat membantu terkait hal teknis dalam ketik mengketik. Kalau ada kesulitan terkait Microsoft Word misalnya nulis daftar isi, header, footer, dan penomoran halaman pasti saya nanya dia dah. Recommended buat ditanya :p

3. Danip Pradipta/@Danivpradipta

Mantan Ketua HMKM ganteng yang satu ini tidak bisa dipungkiri skripsinya saya jadikan sebagai patokan. Walaupun beda topik penelitian namun banyak hal-hal yang menjadi inspirasi dan panduan saya berimajinasi dalam tugas akhir saya.

Dan akhirnya.. sekali lagi disini saya bukan mau sombong, mau pamer, atau sok-sokan. Murni saya menulis ini karena ingin berbagi kepada rekan sejawat. Saya tau perjuangan semester akhir ini memang melelahkan, penuh perjuangan, dan banyak tekanan tentunya. Dengan berbagi, harapan saya bisa memberikan gambaran sedikit kepada (mungkin) yang akan menjalani tugas akhir atau membangkitkan kembali kenangan bagi yang sudah pernah menjalani. Menyelesaikan skripsi itu pilihan, mau cepat atau lambat ada ditangan kita. Karena menurut saya: “Tuhan punya rencana, manusialah yang menentukan”. Tapi sekali lagi setiap orang tentu punya rencananya masing-masing, sebab indikator sukses setiap orang berbeda-beda. Jadi stop mindset bahwa lulus cepet itu orang pinter, gak lulus cepet berarti orang bodoh. Tidak semudah itu analoginya. Atau mindset primitif semacam: “Siapa yang dapet kerja duluan setelah lulus kuliah adalah orang sukses”. Hidup itu pilihan dan kita tidak bisa menyamaratakan kepada semua. Ada orang yang menganggap lulus SMA itu sudah sukses, ada orang yang mengganggap lulus kuliah trus menikah udah sukses. Ya, mari kita menghargai itu. OKESIP?

Kalau bagi saya menyelesaikan Skripsi bukan hanya sekedar menyelesaikan sebuah tugas akhir, tapi merupakan tonggak dari sebuah tugas baru. Tugas untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita #tsaaaaaaaah!

Semoga dongeng panjang saya bermanfaat ya!

Kalau ada yang mau liat abstrak skripsi saya bisa diliat di web RSUP Sanglah, klik di sini: ABSTRAK SKRIPSI KTR

Atau kalau ada temen2 yang mau proposal, skripsi, atau jurnal terkait yang saya sampaikan diatas sila mention saya di twitter @arthageaka. Kasi saya email-nya nanti langsung saya kirimkan. Karena berbagi itu indah, semakin banyak yang dimiliki semakin banyak yang dibagi. #BerbagiGakPernahRugi #BagiPulsaNae :p

Sekian.. kalau yang sudah mampir jangan lupa komentar ya!

HIDUP MAHASISWA..! ( ^_^)9

*Bonus foto Ormas biar semangat

HORAY!

Setelah Ini.. Lalu Apa ?

Haii.. Guyss..!!

*menyapa ala ikang fauzi*

Ga terasa udah lama sekali postingan blog unyu ini sudah tidak di update. Selama itu pula sudah banyak hal-hal yang terjadi di dunia yang fana ini, berikut tarian harlem shakenya..

*pake helm* *manggut-manggut*

Yip, mungkin postingan kali ini agak berbeda dengan postingan blog sebelumnya. Berusaha memuntahkan isi dipikiran, dengan perspektif berbeda. Tentang apa? Tentang apa yaa? Mau tau? aja apa banget ? Ciyuussh? Miapaah? Macacih? Amacak? Iyuuuuhhh..

*fokus*

*lanjuuut*

*kalian luar biasaa..* #eh

Jadi gini guys (cieeh guys)..

Entah kenapa begitu memasuki semester akhir di bangku kuliah yang setengah nyasar ini, begitu banyak hal-hal aneh atau hal-hal yang ga pernah terpikirkan begitu saja melintas lalu hilang.. seperti kamu yang hanya memberi harapan lalu tiba-tiba pergi dan tak kembali. #lha

Misalnya saja ketika masa KKN bulan Agustus tahun lalu, belum juga mulai KKN udah mikir: “nanti aku ama pacar ga ya?” “malem mingguan bisa ke mall ga ya?” “harga bawang meroket ga ya?” dan pertanyaan, pertanyaan absurd lainnya.

Belum lagi ketika magang, pertanyaan absurdnya : “ntar setelah magang bisa gendutan ga ya?” Walaupun semacam ada ke-tidak-nyambungan-nya, tapi hal ini sempat terlintas dibenak, entahlah.

Nah, ada hal lain setelahnya yang terlintas dikepala. Setelah magang, fase selanjutnya adalah menyusun proposal yang tentu saja seminarnya dapet jajan. Walaupun dapet jajan, intinya bukan itu..

Jadi, kita harus punya judul dulu..

Bukaan.. bukan judul lagu, ini judul SKRIPSI..

Iya Skripsi. Sebuah kata yang sangat sensitif bagi mahasiswa semester akhir.

Dulu waktu saya masih muda (waktu masih kena stempel maba), denger skripsi dan nanyain skripsi itu semacam tantangan dan nampak begitu antusias. Kini ketika sudah merasakannya sendiri dan berbarengan juga dengan negara api menyerang semua berubah ketika Aang datang ke dunia.

Setelah bener-bener ngerasainnya sendiri, dalam hati berkata : “Ternyata gini rasanya yaa :(”

Ada macem-macem faktor sesungguhnya yang membuat Skripsi itu terasa berat. Pertama ini merupakan tugas akhir. Jadi kalau ini ga selesai, kuliah ibarat gagal.

Ada hal-hal lain juga misalnya tekanan kelompok sebaya (temen satu angkatan yang duluan nyusun), pacar yang udah duluan lulus, ancaman diusir dari rumah kalau ga lulus tahun ini, serta deadline dari TU yang terkadang bikin mahasiswa begadang di siang hari (Artha, 2013).

Kejenuhan, banyak revisi, anas jadi tersangka merupakan hal-hal yang hampir membuat saya frustasi sesungguhnya. Membuat saya berpikir, saya buat kayak ginian untuk apa sih? (kayak ginian = skripsi)

Jawaban normatif dari hati tentunya : Supaya cepat lulus –> cepet dapet kerja –> cepet kaya –> cepet menikah –> cepet punya anak –> cepet punya cucu –> menikmati hari tua –> sakit-sakitan –> lalu mati. Hanya itu?

Dulu waktu TK pengen cepet SD soalnya keren, pake seragam merah putih. Begitu SD pengen banget SMP kayaknya gaul aja punya banyak temen baru. Begitu SMP ga sabar biar cepet SMA, gagah aja kayaknya make celana panjang ke sekolah. Begitu SMA antusias pengen kuliah, sampe akhirnya setengah nyasar di kuliah sekarang. Sekarang udah kuliah, ngebet biar cepet lulus dengan asumsi cepet kerja dan cepet kaya lalu lanjut seperti bagan panah tadi dengan sebuah akhir yaitu mati.

Terus saja muncul pertanyan dibenak : Setelah ini.. lalu apa?

Semacam kepo terhadap kehidupan saya kelak.

Oke kalau semua berjalan lancar, maka hidup saya seperti bagan panah tadi, tapi gimana kalau engga? (kepo lagi)

Sempat berpikir radikal dan kembali bertanya dalam diri : Kalau memang akhirnya harus mati, kenapa saya harus dilahirkan?

Untuk apa sih saya dilahirkan sebenernya? (kepo pake banget)

Terus saja pertanyaan-pertanyaan berat macam itu tadi terlintas dibenak akhir-akhir ini, entah kenapa. Mungkin, sudah ada masanya dimana semakin bertambah umur semakin besar tanggung jawab. Jadi, hal-hal yang tidak terpikirkan waktu masih muda dulu (waktu masih ganteng, sekarang sih tetep) baru muncul sekarang.

Jadi, setelah pertanyaan-pertanyaan aneh tadi mampir dipikiran, saya berusaha untuk mencari jawabannya. Bukan di google kok.. ini jawaban dari hati.. :p

Dikutip dari Hati dalam Artha (2013), berikut hal-hal yang dapat menjawab pertanyaan absurd diatas secara umum :

Membahagiakan Orang Tua dan Keluarga

Menurut saya, semua yang dilakukan sekarang adalah untuk diri sendiri. Bener.. ilmu yang didapet sekarang adalah untuk bekal kita kok. Tapi motivasi bagi saya untuk sukses adalah membuat kedua orang tua bahagia. Entah sudah berapa uang, serta hal-hal lain yang dikorbankan kedua orang tua buat saya sampe sekarang. Membuat beliau dalam hati mengatakan “Kami berdua bangga sama kamu” adalah goal akhir dalam hidup saya. Kalau belum, akan berusaha terus sampai KAPANPUN!

Berguna bagi lingkungan sekitar

Kalau berguna bagi lingkungan sekitar sesungguhnya gampang banget dilakukan. Bisa dimulai dari hal-hal kecil misalnya beliin saya pulsa 5ribu. Hal-hal besar misalnya beliin saya pulsa 100ribu. Hidup dengan berguna bagi lingkungan sekitar banyak banget kok keuntungannya. Apalagi kalo saya beneran dibeliin pulsa. #NiatAmat

*gagal fokus*

Jadi intinya, semasih muda, bisa, dan belum berbahaya mari menjadi berguna baik dikeluarga, dikampus, dikomplek perumahan, dipasar senggol dan dimana pun. Mari menjadi berguna tidak hanya untuk diri sendiri :)

Menginspirasi

Entah kenapa poin yang ketiga ini berasa diawang-awang banget. Yang kebayang malah jamban dan…….. #Yasudahlah

Memang insiprasi kebanyakan datang ketika jongkok di jamban, tapi bukan berarti kita menjadi jamban. Menginspirasi maksudnya memberikan pengaruh terhadap kehidupan banyak orang (yang positif tentunya). Bagi saya, salah satu indikator sukses adalah bisa menginspirasi banyak orang dalam hal apapun dan sekecil apapun. Jadi hidup akan bermakna kalo menginspirasi..

Semoga! :)

Jadi kesimpulannya adalah, saya dilahirkan bukan untuk mati kok. Masih banyak hal yang saya bisa lakukan sebelum saya mati nantinya.

Bener kata orang, hidup itu untuk dinikmati karena hidup itu cuman satu kali, yang dua itu cuma Sarimi *kemudian muncul ayu tingting*

Lakukan hal yang menurut kita benar dan semasih tidak mengganggu hidup orang lain, lanjutkan!

Hidup akan hampa jika hanya mencari kaya, sebab kekayaan tidak dibawa mati. Buatlah hidup bermakna dengan indikator sukses dari diri sendiri. Bahagia itu sederhana, dan embrionya dari kerja keras kita.

My life, my rules!

Semoga menginspirasi sahabat dahsyat, bahwa hidup itu cuma sekali dan sayang jika dilewatkan dengan hal-hal yang mainstream.

SALAM INDOMIE CABE IJO!

*bonus foto unyu

Artha Kecil

Biruku Kini

Sebuah kombinasi huruf dan hasil memblender kata-kata kurang dari 36 jam..

Sebuah persembahan untuk kalian, sebagian idealis dan sebagian lagi hedonis..

Sebuah puisi iseng yang dibacakan oleh seseorang yang pernah ngengek dicelana waktu SD…

 

BIRUKU KINI

Namaku biru….

Saat ini 11 tahun usiaku…

Aku bisu ketika semua merayakan hari jadiku…

Bukan karena tak mau, namun itulah takdirku…

 

Banyak harapan tersemat dihati…

Menjadi mandiri tanpa dikekang ibu tiri…

Berprestasi tanpa terhalang susahnya birokrasi…

Berjuang terbang tanpa berhenti untuk bermimpi…

 

Sekarang aku sudah beranjak remaja…

Bukan lagi balita yang manja…

Bukan anak ingusan yang hanya bercanda…

Yaaa… nama lengkapku Birumuda…

 

Tak banyak hasrat dan keinginanku…

Menjadi terbaik tanpa menjadi cemburu…

Sederhana.. Tapi sangat bermakna bagiku…

 

Ketika saat ini semua tertawa bahagia…

Melepas canda dimalam AKA…

Tanpa maksud menggangu gembira…

Khawatirku bukan tak ada.

Hanya satu….

Ketika semua tak lagi peduli padaku…

Birumuda..

 

– Puisi yang dibacakan pada malam puncak AKA (28 April 2012) dengan lampu yang remang-remang dan musik semi-Galau

Salam unyu!

 

“Lelaki Kemayu” dan Hingar Bingarnya di Indonesia

Apa yang terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata SMASH ? Bulutangkis, Bola Voli, Tenis, Sepeda Motor atau Kawat Gigi ? Mungkin Istilah SMASH sudah tidak asing ditelinga kita apalagi yang sering nonton pertandingan Bulutangkis atau Voli misalnya, pasti istilah ini sudah layak diALAYkan oleh sahabat-sahabat terdahsyat diseluruh Indonesia. Secara Terminologi (Proses penTERMINALan) SMASH dalam olahraga berarti suatu keadaan dimana pukulan keras menukik tajam untuk memperoleh poin dari lawan atau suatu keadaan dimana kita berjongkok dengan posisi ngeden maksimal dengan sedikit aroma terapi (ini apasih). Kembali ke masalah SMASH, jika akhir-akhir ini mendengar kata tersebut yang terlintas pasti bukan istilah olahraga tapi…… Yak, benar sekali BOY BAND saudara-saudara. Boy Band ? Istilah cowok (kemayu) yang membentuk suatu kelompok untuk bermusik dengan keseluruhan personilnya memegang mic (nyanyi maksudnya). Selain bernyanyi, keseluruhan personilnya juga menari dengan semangat bahkan terkadang hanya bermodal semangat saja dan nekat tentunya. Sangat tertarik membahas fenomena Boy Band ini khususnya di Indonesia. Sebenarnya sih, kalo heboh fenomena Boy Band di Indonesia itu dari jaman Pangeran Diponegoro masih ababil juga udah ada (lebay yang ini). Lihat aja Indra Bekti dulu dengan FBI nya, Trio Libels atau kalo yang luar negeri jaman-jamannya Westlife, Backstreet boys, dan masih banyak lagi yang kemayu lainnya.

Ini dia Penampakannya

Ini dia Penampakannya

Diawal-awal kemunculannya, Boyband yang satu ini sangat banyak mendapatkan cibiran. Tidak hanya cibiran, bahkan ancaman pembunuhan, pemerkosaan, perlakuan tidak menyenangkan, dan penggundulan bulu ketek dengan senjata pemusnah masal. SMASH ketika baru mengepakan kipas bulu keteknya, dianggap sebagai kumpulan lelaki cacingan yang dituding plagiat terhadap Boy Band Korea. Lihat saja video klip pertamanya yang berjudul “Heart You” yang dianggap meniru salah satu video klip Boy Band papan atas korea. Yeeahh, Boy Band dan Korea itu bagai sayur dan garam, keduanya saling melengkapi dan tidak akan terpisahkan sampai maut menjemput. SMASH bisa dikatakan sebagai Pioneer Boyband di Indonesia di era sekarang. Kehadirannya menginspirasi sekitar 250 juta sahabat terdahsyat diseluruh Indonesia untuk ikut juga membuat boyband walaupun yaaa gitu dehh.. (lalala… yeyeyeye..)

Kalo saya sendiri sih ya, liat SMASH pada awal-awal itu cuman ketawa kecil, itupun dikelitikin sama temen. Kenapa ketawa ? Ya, karena buat saya itu menghibur. Kenapa menghibur ? ditengah banyaknya band-band melayu yang juga sempat menjadi trend, kehadiran Boyband bisa dibilang sebagai Oase ditengah padang pasir. Memang sih ya, segala hal yang baru itu pasti kontroversial. Contohnya saya ganteng, nah pasti banyak yang ga setuju gitu, soalnya pada sirik kali yaa.. (Sedikit tidak nyambung dan mari kembali fokus). Kontroversial karena banyak yang terhibur seperti saya, bahkan tidak sedikit juga yang benci dan anti terhadap yang namanya cowok kemayu cacingan (Baca : SMASH). Saya terhibur apakah saya suka ? Jawabannya adalah tidak. Kenapa tidak ? Yah, jawabannya setelah yang mau lewat berikut ini.. *iklan sosis*

Ketidaksukaan saya bukan kepada SMASH ataupun Fenomena Boy band saat ini. Walaupun dapat dikatakan sebagai Pioneer boyband era jukut plecing, kebanyakan boyband Indonesia yang ada sekarang masih berpatokan kepada boyband yang ada di Korea. Dengan, teknik ngeles ala belut sawah, para lelaki kemayu tersebut pasti mengatakan Boy band tersebut (boy band korea) sebagai inspirasi. Yah, dengan sangat berat hati saya bilang kalau boy band Indonesia sekarang adalah (sebagian besar) PLAGIAT. Plagiat disini baik dalam musik, berpakaian, menari (dance istilah kerennya) maupun konsep performance di panggung. Fenomena dan hingar bingar Boyband Korea (K-pop) bukan hanya melanda Indonesia, bahkan seluruh dunia (biar tau aja sih).

Mungkin masyarakat yang anti boyband Indonesia itu juga berpikiran sama seperti saya. Tapi kalo menurut saya, Anti SMASH muncul karena adanya faktor lain. Faktor tersebut adalah “lelaki kemayu” tadi. Mengapa? Kalo di Indonesia sih, cowok-cowok menari, rambut di cat warna durian, pakaian yang dadanya keliatan akan membuat kebanyakan masyarakat berpikir yang macam-macam. Yah, mereka (Baca : SMASH) dianggap sebagai kumpulan lelaki yang sesungguhnya bukan lelaki seutuhnya. Bingung ? saya juga…

Pasti sudah pada taulah ya, hal-hal semacam itu (Lelaki kemayu) masih dianggap sangat tabu di negeri seribu jembatan putus ini. Masyarakat kebanyakan masih belum bisa menerima kemasan hiburan model ini dan membencinya sedemikian rupa. Masalahnya, sentiman anti lelaki kemayu ini menjadi Stigma yang berimbas pada pergaulan dimasyarakat. Maksudnya ? jika seseorang lelaki suka terhadap katakanlah SMASH, lalu kemudian dianggap juga sebagai seorang “lelaki kemayu” tersebut. Sangat tidak fair menurut saya, karena mencintai suatu karya seni adalah se-objektif mungkin. Kemudian, dampaknya adalah bisa saja dikucilkan dari pergaulan yang berakibat pada rontoknya rambut dan kehilangan orientasi arah, kemudian berakibat kemandulan yang sifatnya kronis. Kalau saya sendiri ga mempermasalahkan kemayuan tersebut sih, asal musiknya berkualitas, performance panggung mantap, ga pernah lipsing, dan yang paling penting original.

Namanya juga Fenomena, pasti suatu saat hingar bingar ini akan berakhir dengan sendirinya dan tidak seperti kegantengan saya ini yang tidak akan pernah ada habisnya. Yah, anggap saja Boyband di Indonesia sebagai variasi dari beragam kemasan hiburan yang ada di Indonesia, Walaupun ya gitu deh, dari segi kualitas agak kurang dan keseringan lipsing. Nikmati saja, karena hiburan itu untuk dinikmati, bukan untuk dicibir dan diperdebatkan benar atau salah karena seni itu tak terbatas. Kita mencibir, tapi kalo disuruh ngedance dan nyanyi belum tentu juga bisa se-Kemayu SMASH. Salam Senyum dan Semangat !

Sekian.. Semoga menginspirasi seluruh remaja untuk membuat Boyband :p