Penjajah Itu Datang ke Surga (lagi)

Bali merupakan salah satu destinasi wisata favorit tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia. Pulau yang dijuluki Pulau Surga (The Island of Paradise) dengan beragam budaya dan keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Namun surga yang kita kenal dengan ketenangan, kenyamanan, dan keramahan masyarakatnya beberapa waktu lalu kedatangan “tamu” yang tidak diundang. Terlalu manis jika kita menyebutnya tamu, lebih tepat jika kita menamai mereka penjajah. Penjajah tanpa senjata namun membahayakan bangsa. Siapa mereka?

Akhir tahun lalu, kabar gembira datang bagi masyarakat Bali. Konferensi World Tobacco Asia (WTA) yang rencananya digelar pada tahun 2014 resmi batal dilaksanakan. Setelah berbagai elemen masyarakat dengan lantang menolak pelaksanaan kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali pun dengan tegas menyatakan sikapnya: MENOLAK. Penolakan itu sebagaimana termuat dalam surat ditandatangani Sekretaris Daerah Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun tertanggal 29 Juli 2013. Tak berselang lama, kegiatan serupa rencananya akan diadakan kembali di Bali. Penjajah tersebut datang dan menamai diri mereka “Inter-tabac Asia”. Inter-tabac Asia merupakan pameran dagang international untuk  produk-produk tembakau dan aksesoris merokok yang dikelola oleh Messe Westfalenhallen Dortmund GmbH yang bermarkas di Kota Dortmund, Jerman. Rencananya kegiatan tersebut akan diadakan di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) pada tanggal 27 -28 Pebruari 2014. Berdasarkan informasi dari pihak BNDCC-BTDC pihak penyelenggara Inter-Tabac sudah mengajukan ijin penyelenggaraan kegiatan dengan melampirkan surat ijin keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir Inter-tabac melakukan ekspansi ke wilayah Asia khususnya pada tahun ini akan difokuskan ke Indonesia dengan melakukan kegiatannya di Bali.

Bali si Pulau Surga nampaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi industri tembakau. Mereka yang di negara lain diusir karena kegiatan ini dianggap tidak bermanfaat dan cenderung merugikan, di Bali justru penjajah tersebut kembali diberikan ijin. Ironis memang ketika Bali sendiri sudah memiiki Perda Kawasan Tanpa Rokok yang salah satu poinnya adalah membatasi promosi dan iklan rokok. Di negaranya sendiri Jerman, bahkan kegiatan ini ditolak dan dilarang keras. Salah satunya adalah karena anak-anak tetap diperbolehkan membeli rokok tanpa ada pengawasan yang jelas. Selain itu Indonesia merupakan salah satu (dari sedikit negara) yang belum meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau (Framework Convention on Tobacco Control) yang dicanangkan oleh PBB. Akibatnya industri rokok dapat melakukan hampir segala sesuatu yang mereka inginkan disini. Mereka bebas datang menjajah bangsa kita. Mereka datang ke Pulau Surga kita untuk kepentingan kelompoknya. Mereka datang untuk meracuni generasi muda kita. Pulau yang seharusnya menjadi surga bagi masyarakat dan pengunjungnya untuk menikmati udara bersih tanpa asap rokok, kini kedatangan penjajah untuk yang kedua kalinya. Apakah kita hanya diam?

Inter-tabac Asia 2014 Akhirnya Batal

Setelah berbagai elemen masyarakat dari berbagai negara dan beberapa aksi penolakan yang cukup masif dilakukan khususnya di Bali, pelaksanaan kegiatan Inter-tabac Asia yang rencananya akan digelar di Nusa Dua secara resmi batal. Pembatalan pelaksanaan kegiatan Inter-tabac Asia secara tegas tertuang pada situs resmi penyelenggara Inter-tabac yang menyatakan kegiatan tersebut ditunda.

Dengan dibatalkannya Inter-tabac Asia, merupakan sebuah kemajuan besar bagi giat pengendalian tembakau di Bali dan Indonesia. Bali khususnya sudah berhasil “mengusir” 2 kegiatan serupa yakni World Tobacco Asia (WTA) dan saat ini Inter-tabac Asia. Perjuangan berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis, akademisi, mahasiswa/pelajar, dan pemerintah serta seluruh pihak yang sudah mendukung penuh penolakan Inter-tabac Asia berjalan dengan sukses, Inter-tabac batal digelar.

Akan tetapi, peluang dipindahnya pameran tersebut ke kota lain di Indonesia masih cukup besar. Seperti Pemerintah Provinsi Bali beserta jajarannya, dibutuhkan komitmen dari berbagai daerah di Indonesia untuk menolak pameran rokok serta kegiatan serupa diadakan di Indonesia. Menerima atau mengadakan pameran rokok, sama saja menjadikan Indonesia sebagai tempat sampah bagi industri rokok dimana hampir diseluruh dunia industri rokok sudah ditolak.

Harapannya, tentu saja industri rokok berpikir 1000 kali lagi untuk melakukan kegiatan sejenis khususnya di Bali. Bali membuktikan bahwa jika semua lapisan masyarakat bersatu, ditambah lagi komitmen dan konsistensi sikap dari pemerintah daerahnya, kegiatan seperti ini mustahil diadakan di Indonesia. Kedepan, semoga tidak ada lagi kegiatan dari industri tembakau dalam kemasan apapun, dengan dalih apapun mampir ke negeri kita tercinta. Jika kalian datang kembali, kami siap mengusir lagi. Berani? :)