“Lelaki Kemayu” dan Hingar Bingarnya di Indonesia

Apa yang terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata SMASH ? Bulutangkis, Bola Voli, Tenis, Sepeda Motor atau Kawat Gigi ? Mungkin Istilah SMASH sudah tidak asing ditelinga kita apalagi yang sering nonton pertandingan Bulutangkis atau Voli misalnya, pasti istilah ini sudah layak diALAYkan oleh sahabat-sahabat terdahsyat diseluruh Indonesia. Secara Terminologi (Proses penTERMINALan) SMASH dalam olahraga berarti suatu keadaan dimana pukulan keras menukik tajam untuk memperoleh poin dari lawan atau suatu keadaan dimana kita berjongkok dengan posisi ngeden maksimal dengan sedikit aroma terapi (ini apasih). Kembali ke masalah SMASH, jika akhir-akhir ini mendengar kata tersebut yang terlintas pasti bukan istilah olahraga tapi…… Yak, benar sekali BOY BAND saudara-saudara. Boy Band ? Istilah cowok (kemayu) yang membentuk suatu kelompok untuk bermusik dengan keseluruhan personilnya memegang mic (nyanyi maksudnya). Selain bernyanyi, keseluruhan personilnya juga menari dengan semangat bahkan terkadang hanya bermodal semangat saja dan nekat tentunya. Sangat tertarik membahas fenomena Boy Band ini khususnya di Indonesia. Sebenarnya sih, kalo heboh fenomena Boy Band di Indonesia itu dari jaman Pangeran Diponegoro masih ababil juga udah ada (lebay yang ini). Lihat aja Indra Bekti dulu dengan FBI nya, Trio Libels atau kalo yang luar negeri jaman-jamannya Westlife, Backstreet boys, dan masih banyak lagi yang kemayu lainnya.

Ini dia Penampakannya

Ini dia Penampakannya

Diawal-awal kemunculannya, Boyband yang satu ini sangat banyak mendapatkan cibiran. Tidak hanya cibiran, bahkan ancaman pembunuhan, pemerkosaan, perlakuan tidak menyenangkan, dan penggundulan bulu ketek dengan senjata pemusnah masal. SMASH ketika baru mengepakan kipas bulu keteknya, dianggap sebagai kumpulan lelaki cacingan yang dituding plagiat terhadap Boy Band Korea. Lihat saja video klip pertamanya yang berjudul “Heart You” yang dianggap meniru salah satu video klip Boy Band papan atas korea. Yeeahh, Boy Band dan Korea itu bagai sayur dan garam, keduanya saling melengkapi dan tidak akan terpisahkan sampai maut menjemput. SMASH bisa dikatakan sebagai Pioneer Boyband di Indonesia di era sekarang. Kehadirannya menginspirasi sekitar 250 juta sahabat terdahsyat diseluruh Indonesia untuk ikut juga membuat boyband walaupun yaaa gitu dehh.. (lalala… yeyeyeye..)

Kalo saya sendiri sih ya, liat SMASH pada awal-awal itu cuman ketawa kecil, itupun dikelitikin sama temen. Kenapa ketawa ? Ya, karena buat saya itu menghibur. Kenapa menghibur ? ditengah banyaknya band-band melayu yang juga sempat menjadi trend, kehadiran Boyband bisa dibilang sebagai Oase ditengah padang pasir. Memang sih ya, segala hal yang baru itu pasti kontroversial. Contohnya saya ganteng, nah pasti banyak yang ga setuju gitu, soalnya pada sirik kali yaa.. (Sedikit tidak nyambung dan mari kembali fokus). Kontroversial karena banyak yang terhibur seperti saya, bahkan tidak sedikit juga yang benci dan anti terhadap yang namanya cowok kemayu cacingan (Baca : SMASH). Saya terhibur apakah saya suka ? Jawabannya adalah tidak. Kenapa tidak ? Yah, jawabannya setelah yang mau lewat berikut ini.. *iklan sosis*

Ketidaksukaan saya bukan kepada SMASH ataupun Fenomena Boy band saat ini. Walaupun dapat dikatakan sebagai Pioneer boyband era jukut plecing, kebanyakan boyband Indonesia yang ada sekarang masih berpatokan kepada boyband yang ada di Korea. Dengan, teknik ngeles ala belut sawah, para lelaki kemayu tersebut pasti mengatakan Boy band tersebut (boy band korea) sebagai inspirasi. Yah, dengan sangat berat hati saya bilang kalau boy band Indonesia sekarang adalah (sebagian besar) PLAGIAT. Plagiat disini baik dalam musik, berpakaian, menari (dance istilah kerennya) maupun konsep performance di panggung. Fenomena dan hingar bingar Boyband Korea (K-pop) bukan hanya melanda Indonesia, bahkan seluruh dunia (biar tau aja sih).

Mungkin masyarakat yang anti boyband Indonesia itu juga berpikiran sama seperti saya. Tapi kalo menurut saya, Anti SMASH muncul karena adanya faktor lain. Faktor tersebut adalah “lelaki kemayu” tadi. Mengapa? Kalo di Indonesia sih, cowok-cowok menari, rambut di cat warna durian, pakaian yang dadanya keliatan akan membuat kebanyakan masyarakat berpikir yang macam-macam. Yah, mereka (Baca : SMASH) dianggap sebagai kumpulan lelaki yang sesungguhnya bukan lelaki seutuhnya. Bingung ? saya juga…

Pasti sudah pada taulah ya, hal-hal semacam itu (Lelaki kemayu) masih dianggap sangat tabu di negeri seribu jembatan putus ini. Masyarakat kebanyakan masih belum bisa menerima kemasan hiburan model ini dan membencinya sedemikian rupa. Masalahnya, sentiman anti lelaki kemayu ini menjadi Stigma yang berimbas pada pergaulan dimasyarakat. Maksudnya ? jika seseorang lelaki suka terhadap katakanlah SMASH, lalu kemudian dianggap juga sebagai seorang “lelaki kemayu” tersebut. Sangat tidak fair menurut saya, karena mencintai suatu karya seni adalah se-objektif mungkin. Kemudian, dampaknya adalah bisa saja dikucilkan dari pergaulan yang berakibat pada rontoknya rambut dan kehilangan orientasi arah, kemudian berakibat kemandulan yang sifatnya kronis. Kalau saya sendiri ga mempermasalahkan kemayuan tersebut sih, asal musiknya berkualitas, performance panggung mantap, ga pernah lipsing, dan yang paling penting original.

Namanya juga Fenomena, pasti suatu saat hingar bingar ini akan berakhir dengan sendirinya dan tidak seperti kegantengan saya ini yang tidak akan pernah ada habisnya. Yah, anggap saja Boyband di Indonesia sebagai variasi dari beragam kemasan hiburan yang ada di Indonesia, Walaupun ya gitu deh, dari segi kualitas agak kurang dan keseringan lipsing. Nikmati saja, karena hiburan itu untuk dinikmati, bukan untuk dicibir dan diperdebatkan benar atau salah karena seni itu tak terbatas. Kita mencibir, tapi kalo disuruh ngedance dan nyanyi belum tentu juga bisa se-Kemayu SMASH. Salam Senyum dan Semangat !

Sekian.. Semoga menginspirasi seluruh remaja untuk membuat Boyband :p

Iklan