Politidealism

Ini Pilkada serentak apa Pilpres. Semua penduduk Indonesia seolah-olah larut dalam dinamika politik DKI Jakarta yang bagi saya sendiri sesungguhnya gak terlalu penting. Daerah saya Bali, dan Kota Denpasar tahun ini gak melakukan Pilkada karena memang belum waktunya. Memang bukan DKI Jakarta saja yang melakukan Pilkada, ada beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota lain yang juga menggelar Pilkada. Tapi kenapa semua tertuju pada pilkada DKI Jakarta?

Jawabanya ya karena DKI Jakarta Ibukota dari Indonesia yang konon perwakilan semua penduduk Indonesia ada disana, tentu menjadi sorotan. Selain itu semua media yang mengaku media nasional setiap hari memberitakan pilkada DKI melulu. Media yang katanya nasional tapi beritanya DKI melulu, beritain di daerah kalau ada bencana doang, syedih.

Awal-awal Pilkada sempet suka mengikuti perkembangan DKI karena penasaran sama konsistensi dan idealisme seorang Ahok. Dia pernah mundur dari Partai Gerindra karena partainya itu mendukung UU yang menyatakan bahwa Kepala Daerah dipilih oleh DPRD. Trus  dia juga dengan pede bilang mau maju Independen yang konon kabarnya KTP yang dikumpulin teman Ahok udah 1 juta. Sebagai anak muda yang belum tua, tentu idealisme dan semangat anak muda ala Ahok ini bikin saya penasaran dan menunggu-nunggu, Apakaah.. Ahoook.. akan Maju melaluiii jaluuurr.. Independen..??! *nada ala presenter silet*

Kemudian kejutan terjadi, ya sebenernya gak kejutan juga sih. Namanya juga politisi, apa yang dibilang jangan terlalu dianggap serius. Ahok memilih jalur partai yang dengan kata lain akan dengan sangat mudah untuk menang dengan satu putaran. Brut! Saya pun kentut.. penantian selama ini sia-sia.. haha. Ternyata susah cari politisi idealis di Indonesia. Mungkin yang idealis di Indonesia semuanya udah jadi dosen, atau dikucilkan dimasyarakat, syedih. Semenjak saat itu saya sudah males untuk ngikutin perkembangan Pilkada DKI Jakarta. Udah pasti menang telak..

Namanya juga politik, gak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Dulu Ruhut Sitompul ampe berbusa mulutnya dewa-dewain SBY, sekarang melipir belain Ahok. Dulu Anies Baswedan sang motivator berhasil membuat anak muda terbaik Indonesia meninggalkan zona nyaman buat ke daerah terpencil untuk mengajar, sekarang? Ah.. syudahlah.. namanya juga politisi. Eh, pak Anies akademisi atau politisi?

Entahlah, setelah semua calon mendeklarasikan diri, makin lama, makin males buat ngikutin. Semuanya serba politik, pake cara apa aja biar menang. Kadang-kadang dalam hati berpikir, ini orang-orang rebutan kekuasaan gini-gini amat. Trus kalau udah jadi Gubernur, trus nanti kaya, trus punya uang banyak, mati bawa uang? Cuman dibungkus kain doang trus milih mau masuk surga atau neraka. Eh, bisa milih gak ya? Atau ada motivasi lain? Sebagai batu loncatan jadi Presiden? Trus kalau udah jadi Presiden, trus nanti kaya, trus punya uang banyak, mati bawa uang? Hmmm.. Padahal kalau dipikir-pikir kalau mau kaya, seharusnya jangan jadi Pejabat. Tapi jadi Youtuber atau Selebgram, HAHA!

Anyway, terlepas dari itu semua saya gak mau membenci politik. Karena politik lah kita bisa hidup seperti sekarang. Bisa nulis blog, bisa makan martabak, bisa bikin rujak rambutan kekinian, bisa menyampaikan pendapat tanpa takut besoknya diculik. Politik cuma alat untuk memperjuangankan. Saya pernah denger kutipan entah dari siapa lupa yang bilang bahwa:

“Ketika kita sudah memperjuangkan sesuatu, disanalah kita berpolitik.”

-dari siapa gitu pokoknya, lupa.

Nah, sehari-hari sebenernya kita sudah berpolitik tanpa sadar. PDKT sama pacar juga berpolitik kok, soalnya kita memperjuangankan dia agar tidak di “juang” orang lain. HAHA! (juang dalam bahasa bali artinya “ambil”). Saya bukan ahli politik. Saya SMA jurusan IPA, kuliah jurusan Kesmas, cuman resah dan kadang-kadang heran aja kenapa gak ada politisi yang idealis di Indonesia? Kemungkinannya sih, (1) memang tidak ada, (2) ada tapi tak muncul ke permukaan, (3) ada dan muncul ke permukaan tapi cuman pencitraan, syedih. Atau jangan-jangan idealisme seorang politisi adalah dengan menjadi tidak idealis.

he..he.. he..

When you’re not idealist, you the real a politician.

Iklan