Biografi Skripsi

Udah dari dulu banget pengen nulis ini rasanya. Entahlah, ada saja halangannya. Halangan utamanya tentu saja MALES. Padahal rencananya pengen nulis ini jadi 3 sekuel #yaelahbro. Tapi mumpung lagi mood cukup buat satu sekuel aja ya!. Yang penting maknanya dapet. Jadi gini, ceritanya Artha yang ganteng itu lho, yang waktu SD pernah ngengek di celana udah sarjana sekarang. Nah perjuangan Artha yang ganteng itu menuju sarjana akan sedikit didongengkan disini. Bukan bermaksud menggurui, sok tau, ataupun menasehati. Namun cuman mau berbagi pengalaman yang dialami sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam proses menuju SARJANA. Silahkan disimak sampai akhir ya. Semoga bermanfaat! :D
CEKIDOT!

Ketika awal-awal memasuki semester akhir

Yep.. tepat setelah KKN-PPM periode V tahun 2012, kuliah semester akhir dimulai (semester VII). Kira-kira bulan September lah. Dan saya sendiri ngambil peminatan Administrasi & Kebijakan Kesehatan (AKK). Peminatan ini semacam penjurusan kembali kepada calon SKM dengan lingkup yang lebih kecil. Tujuannya ya tentu saja supaya tema tugas akhir lebih spesifik lagi sesuai minat masing-masing mahasiswa. Ada beberapa peminatan yang ada di IKM Unud. Kalau saya sendiri AKK, ada juga Epidemiologi, Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Gizi, Kesehatan Kerja, Kesehatan Ibu & Anak, dan Biostatistik. Seperti biasa dari tahun ke tahun peminat AKK tetep paling banyak. Entahlah apa penyebabnya. Mungkin karena dianggap paling gampang kali yak? Hanya asumsi, tapi kalau saya pribadi punya beberapa alasan untuk masuk peminatan AKK. Diantaranya adalah:

  1. Saya ini buta warna parsial. Jadi agak beresiko kalau memilih peminatan Gizi ataupun Kesling yang banyak berkutat di Lab. Walaupun sebenernya saya bisa bedakan warna kok, cuman pas tes ada aja beberapa yang salah tebak dan katanya parsial. Disini takutnya, pas nanti nyari kerja ada syarat gak boleh buta warna dan itu menjadi halangan.
  2. Skripsi untuk AKK itu gak membutuhkan biaya yang mahal dan cenderung simpel. Yah, walaupun relatif sih tapi rata-rata demikian. Cuman modal kuesioner dan pulpen aja bisa jadi Skripsi kok. Waktu itu sih mikir: “kalau bisa skripsi murah dan simpel, ngapain nyari yang ribet dan mahal?”

Itu aja sih alasannya, selain juga ada ketertarikan tentang kebijakan (sedikit), namun alasan utamanya ya dua hal diatas tadi. Waktu itu bukan mengikuti passion atau bener2 berminat AKK, tapi lebih berpikir realistis: “Yang penting bisa lulus tepat waktu dan gak bayar SPP cuman buat nunggu wisuda.”

Kuliah peminatan kurang lebih selama 2 bulan. Sistemnya blok. Agak kagok sih dengan sistem ini. Melelahkan. Hampir setiap hari ada tugas dan kuliahnya ampe sore kadang2. Jenuh dan yang paling utama ketika itu belum punya rencana mau magang dimana. Magang dihatimu aja boleh? #eh

Iyaa, bener2 gak tau mau magang dimana. Galau, Gundah, Gulana, Cetar, Me-langlang-buana deh pokoknya. Akhirnya terpaksa ikut2an temen deh. Daftar magang di PT. Askes. Udah ngebayangin gimana ntar disana, makan siang dimana, strategi bolos gimana, dan pada akhirnya surat balasan dari PT. Askes pun diterima. Ternyata PT. Askes lagi ada akreditasi gitu, jadi gak mau nerima mahasiswa magang. Padahal tahun2 sebelumnya rutin kakak kelas magang disana. Karena waktu yang udah bener2 mepet, akhirnya milih magang di Puskesmas saja yang administrasi dan surat menyurat tidak terlalu ribet. Singkat cerita, saya akhirnya magang di Puskesmas I Denpasar Barat (lain kali saya ceritain deh beberapa pengalaman magangnya ya, kalo lagi mood :p ). Puskesmas I Denbar ini letaknya di sebelah SMA 4 Denpasar. Kenapa memilih disana? alasannya cukup aneh memang. Soalnya Puskesmasnya tingkat dan ada UGD-nya. HAHAHA! Dan.. setelah magang 7 minggu di Puskesmas tidak juga membuat saya dapet ide untuk Skripsi. Deadline semakin dekat, wajah semakin pucat, judul tak jua didapat. #GalauItuRibet #TidakLagiSederhana

Waktu magang sih saya ngambil masalah untuk laporan tentang mutu pelayanan di Puskesmasnya. Tentang gimana sih pelayanan Puskesmas kepada masyarakat serta infrastrukturnya. Nah, awalnya laporan itu mau dipake judul Skripsi tapi entahlah. Saya gak tertarik ambil ‘mutu’ buat Skripsi. Padahal kalau mau mah gampang. Data udah ada, orang disana udah pada kenal juga. Tapi sampai disini saya baru sadar, Skripsi bukan hanya soal selesai, tapi juga tentang KENYAMANAN. Idealis ya? Tapi beresiko.. :D

Memasuki masa kritis Semester VIII (Awal dari sebuah akhir)

Antara seneng, terharu, dan beban juga udah memasuki semester akhir. Semester yang kata orang semester KERAS. Penuh intrik, tekanan, deadline, dan hal yang gak mengenakan lainnya. Di semester ini saya hanya ngambil satu mata kuliah yaitu Skripsi. Keren ya? Tapi apanya yang keren coba. Baru masuk semester ini udah ditodong judul sama kepala bagian. Ada deadline untuk mengumpulkan outline rencana penelitian atau kita sih nyebutnya proposal mini. Jadi semua mahasiswa wajib menyetor judul beserta kerangka rencana penelitian secara singkat, untuk kemudian nantinya dapet nama pembimbingnya masing2. Nah, pembimbing nya disini disesuaikan dengan tema rencana penelitian kita. Karena tidak juga mendapat ide dan inspirasi walaupun hampir setiap hari jongkok di WC, alhasil jalan singkat pun ditempuh #tsaaah. Gak singkat2 amat sih, jadi intinya gini. Dulu waktu semester VI dapet mata kuliah Metodologi Penelitian, nah di mata kuliah tersebut ada tugas untuk buat proposal penelitian namun berkelompok. Ketika itu judul proposalnya adalah: “Tingkat Pengetahuan Karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar terhadap Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Bali”. Karena temen kelompok yang lain gak ada yang ngambil judul ini akhirnya saya yang ngambil deh. Tapi… saya gak pake ini 100%. Saya modifikasi sedikit sesuai dengan kemampuan, waktu, biaya, dan kira2 menarik. Hanya mengambil sedikit latar belakang dan beberapa poin dari laporan tersebut. Ketika itu saya ngumpul proposalnya termasuk diawal-awal. Strategi saya adalah biar kebagian pembimbing dari dosen IKM. Karena seperti kita ketahui bersama, peminatan AKK ini yang paling banyak manusianya sementara dosen yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, kekhawatiran saya ketika itu adalah dapet dosen pembimbing dari luar yang bimbingannya mesti ke luar Kabupaten. Kan berat diongkos jadinya cuman buat bimbingan doang. Visioner banget ya, padahal tinggal minta aja dikasi uang bensin kok! hehehe. Nah, akhirnya proposal mini yang saya kirim itu judulnya: “Persepsi Petugas Puskesmas di Kota Denpasar terhadap Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Bali”. Ini beberapa alasan kenapa judul ini yang akhirnya muncul ke permukaan:

  1. Memilih “Persepsi” karena kata kakak kelas ini gampang. Kita meneliti persepsi orang, dan ketika sidang nanti gampang ngeles sama penguji2.
  2. Saya memilih Puskesmas karena biar ada unsur magangnya sedikit. Sebab banyak temen2 yang ngambil judul dari tempat magang. Yah intinya biar magang ada kontribusi dikit buat Tugas Akhir.
  3. Memilih tentang Kawasan Tanpa Rokok karena latar belakangnya udah jadi di proposal mini tersebut. Tinggal diedit sedikit saja.
  4. Memang ada interest sedikit tentang masalah rokok, sebab masalah rokok ini masih kontroversi dimasyarakat. Yang pro dan kontra jumlahnya nyaris seimbang. Dan kalo diteliti nantinya pasti menarik.

Anyway, setelah setor proposal mini kira2 akhir bulan Desember 2012, beberapa minggu kemudian diumumkan nama2 pembimbing Skripsi untuk tiap mahasiswa. Agak deg2an juga sebab kata pepatah “pembimbing menentukan masa depan” #cakeeep. Pepatah dari mana coba itu. Dan setelah lama menunggu akhirnya nama yang ditunggu2 itu…. Iya, agak diluar ekspektasi.. akhirnya dapet pembimbing dari dosen IKM sih namun bukan dosen AKK “……”

Pembimbing saya adalah bapak KTR Indonesia, yaitu.. Pak Kerta Duana yang sesungguhnya adalah dosen Kesehatan Kerja. Tetep bersyukur saja sih, cuman berharap bisa kerjasama dengan baik sampai maut memisahkan. ~

Menyusun proposal.. paling melelahkan!

Pak Kerta ini sepak terjang di dunia per-KTR-an sudah tidak diragukan lagi. Beliau salah satu tim perumus Perda KTR di Bali. Selain jadi dosen IKM, beliau juga aktivis anti tembakau garis keras. Kalau ada acara anak IKM tentang anti rokok beliau lah orang dibalik layarnya. Ketik aja di google “Kerta Duana KTR” untuk info lebih lanjut tentang beliau. Sebelum jadi dosen pembimbing, saya secara pribadi hanya mengenal Pak Kerta layaknya dosen IKM biasa. Waktu ngajar dulu tentang Kesehatan Kerja cukup baik sih. Saking baiknya setiap beliau ngajar kelas pasti ribut. -____-

Ketika bimbingan untuk kali pertama, sayapun memberikan proposal mini tersebut untuk diberi masukan. Hasilnya sungguh mencengangkan: DITOLAK! -____- #yaelahbro

Gilaa.. kalau ditolak apa yang mau saya teliti ini? Ketika deadline semakin dekat tapi ide tak lagi datang merapat. Alasan beliau menolak sebenernya masuk akal sih. Rencana saya adalah meneliti persepsi petugas Puskesmas terhadap kebijakan KTR. Lha!? untuk apa meneliti yang jawabannya (mungkin) secara normatif sudah kita ketahui. Kalau kita tanya setiap petugas Puskesmas pasti nanti jawabannya yang baik2 aja. Apalagi persepsi, banyak bias pasti nantinya. Nah, setelah berdiskusi dan meminta saran dan masukan, beliau memberi ide serta alternatif penelitian yang lebih menarik. Saya disuruh untuk meneliti bagaimana sebuah instansi atau tempat yang memberlakukan KTR mengimplementasikan kebijakan KTR tersebut. Bisa disekolah, ditempat kerja, dipelayanan kesehatan, dll. Setelah dipikir-pikir apanya.. apanya.. apanya dong, penelitian ini cukup menarik juga dan yang paling penting orisinil. Selama ngubek2 perpustakaan kampus belum ada penelitian serupa. Serupa dalam arti meneliti “implementasi Kebijakan KTR di sebuah instansi” khususnya di Bali. Secara ikatan batin #aiihsedap, akhirnya kita berdua deal dengan topik penelitian yang ini. Masalah instansinya, judul, serta variabel penelitiannya saya menentukan sendiri dulu sebelum nantinya direvisi dan diberi masukan kemudian.

Singkat cerita akhirnya saya memilih RSUP Sanglah sebagai instansi penelitian. Kenapa milih Sanglah? Agak gambling sebenernya sebab bener2 gak tau bagaimana kondisi serta lingkungan disana. Belum lagi banyak temen2 yang bilang kalau penelitian disana itu birokrasinya ribet, orang2nya galak2, belum lagi saya bener2 orang luar. Gak punya kenalan, kerabat, atau keluarga yang kerja di Sanglah. Awal2 agak ragu tapi entah kenapa hati saya berkata lain. Hati saya seolah berkata: “Belum dicoba, belum penelitiannya jalan, kok udah nyerah?”. Akhirnya dengan hati yang terbuka yang berdasarkan Pancasila saya tetapkan lokasi penelitian di Instansi tersebut. Ada beberapa hal yang membuat saya memilih sebuah instansi kesehatan dalam hal ini rumah sakit sebagai tempat penelitian. Instansi kesehatan (Rumah Sakit) kalo kasarnya kita bilang tempat berkumpulnya orang2 sakit agar kesehatannya pulih. Tapi disisi lain rumah sakit juga merupakan tempat umum yang siapa saja boleh mengunjungi. Tidak hanya sebatas orang sakit, pengunjung, pembesuk, atau pedagang koran juga boleh masuk kalau mau. Nah dengan banyaknya orang berkunjung tersebut tidak bisa dipungkiri masih saja ada orang yang merokok walaupun tanda2 larangan merokok udah segede baliho Ormas berbadan kekar. Terlebih RSUP Sanglah merupakan rumah sakit terbesar di Bali, rumah sakit dengan pengunjung perharinya banyak bahkan menjadi rumah sakit rujukan se-Bali Nusra. Selain itu dari beberapa media online yang saya baca, Sidak Satpol PP beberapa waktu lalu masih saja ditemukan perokok maupun puntungnya di sekitar area Rumah Sakit. Nah, kompleksitas dari berbagai hal tersebut saya rasa sangat menarik untuk diteliti. Namun saya melihat dari sisi rumah sakitnya. Bagaimana sih mereka melaksanakan/mengimplementasikan sebuah kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Gituu.. Karena Perda KTR juga lagi anget2nya ketika itu (Perda No. 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok) maka fokus dari penelitiannya adalah bagaimana Rumah Sakit Sanglah mengimplementasikan Perda KTR tersebut sesuai dengan ketentuan tertulis dari perda KTR-nya.

Setelah kira2 punya gambaran rencana penelitian dan disampaikan kepada pembimbing. Fokus berikutnya adalah: SELESAIKAN PROPOSAL! Saya adalah jenis mahasiswa yang buat dulu baru bimbingan. Bukan bimbingan dulu baru buat. Maksudnya gini, semua yang ada diotak dan pemikiran, saya buat pada proposal penelitian sampai fix. Bener2 sampai selesai baru kemudian bimbingan. Agak beresiko memang sebab seandainya kalo salah sedikit, bisa2 ngulang dari awal. Untungnya setiap bimbingan kalau revisi masih bisa diatasi lah. Masih keburu waktu. Jadi ketika proposal (versi saya) selesai, saya kasih pembimbing buat direvisi kemudian perbaiki segera, kasih pembimbing lagi, perbaiki lagi. Terus gitu sampe proposal bener2 dianggap siap untuk maju. Bersyukur banget proposal bisa maju dan akhirnya ujian proposal sebelum deadline membunuh. HOREE!

Ujian proposal saya kalo gak salah tanggal 5 Maret 2013 dengan beberapa sahabat dahsyat yang meramaikan. Revisi pasti ada.. lulus ujian dengan perbaikan. Namun hanya beberapa hal non-teknis. Dan akhirnya judul yang diterima adalah: “Analisis Implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Tahun 2013” Wuuiiih.. panjang bener yak.. kayak antrian Theater JKT48.. :D

Bersyukur banget ketika itu bisa selesai proposal-an. Masa2 paling melelahkan. Masa2 dimana perpustakan menjadi rumah kedua, laptop menjadi pacar kedua, serta pembimbing sebagai pendamping hidup sementara selesai juga. Senaaang! Satu langkah lagi menuju sarjana walaupun masih nengkleng. :P

Masa-masa penelitian

Kalau saya menganalogikan proposal itu seperti kita membuat anak panah dan penelitiannya itu seperti busur panah. Ketika anak panah sudah runcing dan beracun, tinggal bagaimana busur panah mengarahkan anak panah tersebut kesasaran. Nah, proses penelitian ini sebenernya tinggal menjalankan apa hal-hal yang terdapat pada proposal. Disinilah pentingnya sebuah proposal yang benar2 mantap. Proposal bukan hanya sekedar syarat “disetujuinya” sebuah penelitian tapi merupakan landasan kita untuk melakukan setiap tindakan sekecil apapun. Akan sangat penting untuk memperhatikan hal2 teknis dan non-teknis dari setiap detail. Setelah proposal selesai direvisi dan disetor ke TU, langkah berikutnya adalah mengurus ijin penelitian. Masa2 ini sempet bikin galau juga ketika itu. Sebab bisa dikatakan untuk ngurus ijin penelitian saja saya menunggu kepastian selama hampir 2 bulan. Untuk diketahui, yang bikin lama adalah turunnya ijin dari Komisi Etik FK Unud. Iyaa.. saya juga baru tau ini. Jadi setiap siapapun yang mau melakukan penelitian di RSUP Sanglah, harus di-review dulu proposalnya. Dibaca, dicermati dan kalau benar2 sudah layak proposalnya baru boleh penelitian disana. Yang bikin lama lagi adalah ternyata proposal saya dinyatakan perlu direvisi lagi oleh reviewer-nya. Walaupun sedikit sih, cuman disuruh nambahin informed consent atau lembar informasi penelitian. Tapi cukup menyita waktu. Bayangkan ketika temen2 lain ada yang sudah mau selesai penelitian namun saya sendiri belum mulai sama sekali. #BadLuck

Saya belum mau menyerah ketika itu. Dengan waktu yang super mepet, surat ijin penelitian akhirnya keluar juga. Dengan kecepatan bekicot yang naik kereta shinkanzen, saya persiapkan semua hal terkait proses penelitian. Mulai dari panduan wawancara mendalam, alat perekam suara, wajah yang ganteng serta senyum yang manis. Nah, untuk Skripsi saya ini saya mengambil metode kualitatif. Baik proses pengambilan data, pengolahan data, penyajian data bisa dibilang semuanya kualitatif. Intinya sih saya melakukan wawancara kepada responden yang sudah ditetapkan pada proposal. Wawancaranya ya seputar KTR, baik berupa informasi yang diketahui responden, pengetahuan reponden dan juga persepsinya terkait Perda dan implementasinya di RSUP Sanglah. Nah, hasil wawancara tersebut kemudian saya transkrip ke bentuk tulisan. Hasil transkrip tersebutlah bisa dikatakan hasil penelitian mentah, sebelum nantinya kemudian diolah sesuai kebutuhan dan tujuan penelitian.

Ketika melakukan wawancara bisa dibilang cukup lancar tapi nggak lancar-lancar banget. Beberapa responden menolak untuk diwawancara. Kadang dioper-oper juga kayak bola voli kesana kemari buat ketemu responden. Bahkan ada responden dari pihak rumah sakit, kita sebut saja Melati menunjukan gelagat seperti “tidak suka” terhadap mahasiswa yang penelitian disana. Ketika saya mau mewawancarai melati ini kesannya menutup-nutupi informasi dan seperti orang marah2 kepada saya. Ketika saya ajak berdebat dia seolah tidak mau kalah padahal saya sendiri bukan bertujuan untuk menang. Ijin untuk penelitian juga saya udah punya. Sadar saya gak mungkin menang karena saya sedang “bertandang kerumah orang” akhirnya saya mengalah. Kalau kata pepatah “YANG GANTENG NGALAH” hehehe. Melati ini bisa dikatakan pegawai biasa lah, dan yang saya tangkap sih melati takut kalau kinerjanya diungkap ke publik melalui hasil penelitian saya. Padahal ya saya bukan nyari benar atau salah terkait kinerja seseorang tapi cuman mau nyari informasi yang saya butuhkan saja. Identitas responden juga dirahasiakan kok udah saya jelasin padahal. Tetep dia gak mau ngerti, bener2 berasa debat ama Habieb Rizieq yang gak mau dengerin pendapat orang. Akhirnya dihari berikutnya saya menceritakan hal tersebut kepada atasan dari Melati. Beberapa hari kemudian saya bertemu Melati lagi dan saya bilang sudah memeiliki ijin dari atasannya. Apa yang terjadi? Yap! Akhirnya saya sukses mewawancarai melati. Walaupun sebel juga liat wajahnya. Gaya ngomongnya itu nyebelin banget. Wajahnya (maaf) jelek pula. HAHAHA! Namun demikian informasi dari Melati cukup berharga untuk hasil penelitian saya. Itulah mengapa saya ngotot untuk mewawancarai dia, walaupun sedikit dongkol juga hati ini.

Selain pengalaman tadi, ada hal-hal unik lain yang saya temui selama di Sanglah. Ada responden yang dengan gamblang menjelaskan area2 dilarang merokok, bahwa disini tidak boleh merokok eh, pas mau pulang ketemu diparkir dia lagi merokok #yaelahbro. Banyak lagi hal-hal yang menarik sebenernya selama penelitian selama 7 hari ketika itu. Namun, yang paling membekas adalah seperti hal yang saya sampaikan diatas. Setelah penelitian selesai, langkah berikutnya adalah mengolahnya, menyelesaikannya, bimbingan, revisi, bimbingan, revisi, bimbingan, sampai tanda tangan pembimbing diterima untuk kemudian maju sidang. Agar kaki yang nengkleng tadi segera mendarat berdampingan dengan kaki yang sudah selangkah didepannya. B-)

Ketika Sidang itu..

Singkat cerita tanda tangan pembimbing akhirnya didapat. Sebuah perjuangan yang luar biasa untuk bisa dapet tanda tangan terakhir supaya bisa maju sidang. Sebab bisa dibilang revisi setelah penelitian ini yang paling banyak dan paling agak ribet. Setelah perjuangan yang bener2 melelahkan akhirnya bisa juga setor ke TU walaupun telat beberapa hari dari deadline. Ketika itu deadlinenya hari jumat dan saya ngumpulnya dihari rabu minggu berikutnya. Agak galau juga sebab jadwalnya mepet banget dengan yudisium. Takutnya gak dapet jadwal karena ngumpul telat. Yah, tetep optimis aja ketika itu. Biar telat asal selamat, biar telat yang penting skripsi mantap #tsaaah. Dan setelah sekian lama, akhirnya dapet jadwal sidang juga sebelum yudisium. Tepat tanggal 20 Juni 2013 pukul 11.00 Wita. Artha yang waktu SD pernah ngengek di celana itu akhirnya sidang juga. Suasana sidang ketika itu tidak semencekam yang dipikirkan. Lebih seperti tanya jawab dan menjelaskan apa yang kita buat. Para pengujinya pun santai, gak ada marah2 atau jutek2an. Bahkan para pengujinya pada ngelawak didepan saya. Serius, mereka bercanda satu sama lain dan saya menikmati “hiburan” tersebut ditengah hati yang gundah gulana. Mungkin karena pengujinya semua dari kampus + pembimbing yang suka bercanda, hasilnya ya gitu, sidang rasa kumpul2 keluarga yang lagi kangen2an. Tapi, ada juga serius2nya kok. Beberapa penguji mengatakan kalau penelitian saya kurang mendalam. Maksudnya ada informasi2 yang sebenernya bisa digali lagi dan hasilnya pasti lebih menarik. Namun demikian, beberapa hal yang bikin saya seneng. Kata salah satu penguji skripsi saya ini minim kesalahan penulisan dan rapi sekali. Hampir tidak ada salah ketik dan kesalahan tata bahasa. Dan kata pembimbing, skripsi saya ini udah kayak cerita. Ketika beliau membacanya sangat menikmati dan mengikuti.. sampai ketiduran katanya. -____- #LawakAbis

Nah, setelah presentasi dan tanya jawab, saya pun disuruh keluar agar para penguji dan pembimbing mendiskusikan apakah saya lulus sidang atau tidak. Dan kalau lulus apakah dengan perbaikan atau tidak dan nilainya berapa. Agak deg2an tapi tetep optimis sih. Kalau gak lulus paling minum baygon. Dan setelah 10 menitan diluar akhirnya disuruh masuk deh. Dag-dig-dug-ser jantung ini rasanya. Suasana tiba2 sunyi, hanya terdengar suara detik dari jam dinding. Para penguji pun bertanya: “Udah siap?” saya pun menjawab: “Sudaaah.. Kakaaa..” sembari menggoyang2kan kaki karena grogi. Akhirnya diumumkan bahwa saya lulus sidang namun dengan perbaikan dan nilainya 3,31. LEGA! Pengen langsung berlari kepantai, nyebur ke laut, dan teriak kenceng2 rasanya. Perjuangan selama ini akhirnya berakhir juga. SAYA LULUS SIDANG!. Perasaan ketika itu campur aduk sebenernya, lega, seneng, terharu, semua deh ada disini. Ketika itu pembimbing bertanya kembali: “Cukup nilainya segitu? Kalau kurang saya tambahkan..?” karena saya orangnya malu-malu, saya bilang cukup saja lah. Berapa saja nilainya saya terima kalau memang itu sudah keputusan penguji sekalian. Walaupun agak minder juga sebab temen2 lain yang saya tanya nilainya banyak yang gede juga. Yang bikin saya semangat ketika itu adalah kata pembimbing: “Walapun ada informasi yang kurang dari skripsinya, saya lebih banyak respect-nya.. dan yang pasti skripsi ini berguna dan bisa saya bawa kemana-mana”. *mata berkaca-kaca* itulah kata pembimbing sebelum sidang selesai. Entahlah, saya lebih seneng karya saya dihargai dengan cara seperi itu daripada dengan nilai yang tinggi. Dan akhirnya saya pun menyalami semua penguji dan pembimbing satu persatu. Selesai juga.. FIYUUUH! dan sedikit lagi menuju eS Ka eM! :)

Pasca Sidang dan yang terjadi adalah..

Setelah sidang hanya dapet waktu kurang lebih satu minggu untuk revisi lagi, sebelum ngurus berkas untuk yudisium. Ujian tanggal 20 Juni 2013, yudisium tanggal 5 juli 2013 dan daftar yudisium paling lambat seminggu sebelumnya. Mepet-pet-pet. Namun sekali lagi bisa dilewati juga.. akhirnya saya bisa yudisium tepat pada waktu yang sudah ditentukan untuk wisuda bulan Agustus. Ini dia! :D

Foto via Instagram @wismajenky

Dan akhirnya yang dinanti selama ini.. saya bisa wisuda tepat waktu juga.. 3 Agustus 2013

Wisuda

Nah, setelah semua berakhir.. ada beberapa kejutan yang datang menghampiri masih terkait Skripsi. Sedikit gak nyangka sih sebenernya dan kejutannya adalah abstrak Skripsi saya ini lolos ke Forum Kebijakan Kesehatan di Kupang. Ceritanya gini. Jadi setiap tahun ada namanya Forum Kebijakan Kesehatan. Jadi ahli-ahli kebijakan kesehatan seluruh Indonesia itu kayak buat pertemuan gitu setiap tahunnya. Nah, untuk tahun ini forumnya dilaksanakan di kupang berbarengan dengan Kongres Nasional ke-12 IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat) ketika itu.  Dalam rangka itu, siapapun yang punya penelitian atau review artikel boleh mengirimkannya kepada panitia forum tersebut atau istilahnya call for paper. Nah, karena setiap tahun juga rutin dari IKM Unud ngirim abstrak, dari kepala bagian AKK dikirimlah beberapa abstrak dan dipilih yang kira2 menarik serta sesuai dengan tema yang ditentukan. Setelah dikirim oleh kepala bagian, betapa kagetnya saya ketika mendapatkan email sebagai berikut:

Email Pertama

Email Pertama

Pada email tersebut mengatakan bahwa saya mendapat kesempatan untuk ke Kupang, presentasi disana, dengan syarat merevisi beberapa hal dan membuat surat pernyataan. Seneng sih tapi gak terlalu ngarep, sebab saingan nya seluruh indonesia dan sama orang2 yang ahli dibidangnya pulak. Kayaknya cuman saya aja yang fresh graduate from the open. Nah, jadi kalau lolos tahap selanjutnya yaitu 15 besar dapet beasiswa full katanya. Ke kupang gratis dengan semuanya disana ditanggung. Cuman modal presentasi trus dapet jalan2 gratis siapa yang ga ngiler coba? Namun beberapa hari kemudian dapet email lagi. Isinya kayak gini:

Email Kedua

Nah, menurut email diatas katanya kalau gak lolos 15 besar dapet insentif 1 juta, tapi akomodasi dan transportasi tidak ditanggung. Jadi tiket pesawat dan lain-lain kita sendiri yang nanggung, cuman gratis biaya ikut Konas IAKMI aja senilai 1 juta rupiah. Hmm.. Dari sini mulai menentukan sikap: KALAU GAK GRATIS GAK BERANGKAT. *emot preman nodong*

Kemudian setelah lama menunggu ada email lagi yang masuk:

Email Ketiga

Kata email tersebut, saya LOLOS untuk ke Kupang, udah disuruh presentasi disana tapi ya gak dikasi biaya. Hanya biaya disana saja gratis. Biaya transport uang sendiri katanya. Karena sudah menentukan sikap kalau gak gratis gak berangkat akhirnya saya memutuskan untuk gak jadi berangkat deh. Sudah ditelpon beberapa kali sama panitianya. Sempet diajak nego juga sama dosen buat bayarnya setengah-setengah, tapi ya saya memang kebetulan gak ada uang. Dan buat minta sama orang tua juga gak tega. Akhirnyaa.. yang jadi berangkat ke Kupang cuman abstraknya saja. Penulisnya cuman bisa senyum2 dirumah sambil ngemil pepsodent. Dan yang bikin heran di email terakhir ini kenapa saya dipanggil ibu ya? Padahal email sebelumnya dipanggil bapak. Apakah nama I Gede Artha Kusuma se-feminim itu -____- #AkuLelakiLemah

Setelah gagalnya berangkat ke kupang, ada satu kejutan lagi. Abstrak saya lolos poster presentation di International Seminar and Symposium dengan judul “Social Determinants of Health: The MDGs and Beyond” yang keynote speaker-nya Ibu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Kali ini tempatnya di kampus FK Unud dan bener2 gratis. Cuman modal ngeprin poster doang udah bisa ikut seminar 2 hari dengan semua fasilitas mulai dari seminar kit, sertifikat, snack, dan yang paling penting makan siang gratis yang enak. HAHAHA! Lumayan lah.. dapet dengerin Bu Menkes cuap2, kesempatan yang jarang banget, terlebih lagi ini gratis. :p

Huehehe.. mungkin itu tadi dongeng singkat tentang perjalanan dari tugas akhir saya. Luar biasa memang namun ada harga yang setimpal untuk kerja kerasnya. Dan saya jujur puas. Puas bangeet. Puas secara batin terutama dan tentunya kepuasan yang gak bisa dibayar pake uang. Disini saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang sudah membantu kelancaran tugas akhir saya. Ada beberapa pihak yang gak ada di lembar persembahan skripsi namun cukup berperan dalam penyusunan skripsi ini. Diantaranya adalah:

1. Agung Semarajaya/@agungsemarajaya

Ahli jaringan yang baru saja menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Sydney inilah yang menerjemahkan abstrak skripsi saya menjadi bahasa inggris. Sangat membantu apalagi ketika itu deadline mepet :p

2. Hardian Afriyudi/@HardianAyudi

Temen sejawat satu pembimbing ini sangat membantu terkait hal teknis dalam ketik mengketik. Kalau ada kesulitan terkait Microsoft Word misalnya nulis daftar isi, header, footer, dan penomoran halaman pasti saya nanya dia dah. Recommended buat ditanya :p

3. Danip Pradipta/@Danivpradipta

Mantan Ketua HMKM ganteng yang satu ini tidak bisa dipungkiri skripsinya saya jadikan sebagai patokan. Walaupun beda topik penelitian namun banyak hal-hal yang menjadi inspirasi dan panduan saya berimajinasi dalam tugas akhir saya.

Dan akhirnya.. sekali lagi disini saya bukan mau sombong, mau pamer, atau sok-sokan. Murni saya menulis ini karena ingin berbagi kepada rekan sejawat. Saya tau perjuangan semester akhir ini memang melelahkan, penuh perjuangan, dan banyak tekanan tentunya. Dengan berbagi, harapan saya bisa memberikan gambaran sedikit kepada (mungkin) yang akan menjalani tugas akhir atau membangkitkan kembali kenangan bagi yang sudah pernah menjalani. Menyelesaikan skripsi itu pilihan, mau cepat atau lambat ada ditangan kita. Karena menurut saya: “Tuhan punya rencana, manusialah yang menentukan”. Tapi sekali lagi setiap orang tentu punya rencananya masing-masing, sebab indikator sukses setiap orang berbeda-beda. Jadi stop mindset bahwa lulus cepet itu orang pinter, gak lulus cepet berarti orang bodoh. Tidak semudah itu analoginya. Atau mindset primitif semacam: “Siapa yang dapet kerja duluan setelah lulus kuliah adalah orang sukses”. Hidup itu pilihan dan kita tidak bisa menyamaratakan kepada semua. Ada orang yang menganggap lulus SMA itu sudah sukses, ada orang yang mengganggap lulus kuliah trus menikah udah sukses. Ya, mari kita menghargai itu. OKESIP?

Kalau bagi saya menyelesaikan Skripsi bukan hanya sekedar menyelesaikan sebuah tugas akhir, tapi merupakan tonggak dari sebuah tugas baru. Tugas untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita #tsaaaaaaaah!

Semoga dongeng panjang saya bermanfaat ya!

Kalau ada yang mau liat abstrak skripsi saya bisa diliat di web RSUP Sanglah, klik di sini: ABSTRAK SKRIPSI KTR

Atau kalau ada temen2 yang mau proposal, skripsi, atau jurnal terkait yang saya sampaikan diatas sila mention saya di twitter @arthageaka. Kasi saya email-nya nanti langsung saya kirimkan. Karena berbagi itu indah, semakin banyak yang dimiliki semakin banyak yang dibagi. #BerbagiGakPernahRugi #BagiPulsaNae :p

Sekian.. kalau yang sudah mampir jangan lupa komentar ya!

HIDUP MAHASISWA..! ( ^_^)9

*Bonus foto Ormas biar semangat

HORAY!

Iklan